sorotandunia.com – Ketegangan di Timur Tengah terus memanas. Namun yang mengejutkan, bukan serangan antar-pihak berkonflik yang menjadi berita utama, melainkan jatuhnya korban di barisan yang seharusnya paling netral: pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon Selatan. Helm biru, simbol perlindungan internasional, justru berubah menjadi target.
Indonesia mengirimkan 1.090 prajurit sebagai bagian dari United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), misi perdamaian terbesar yang diemban negara ini sejak 2006. Total 8.800 prajurit telah bertugas bergantian selama dua dekade terakhir. Tugas mereka bukan berperang, melainkan memantau: mencatat pergerakan tank, melaporkan pelanggaran gencatan senjata, dan memastikan zona demiliterisasi tidak disusupi.
Mereka diposisikan di garis depan dengan peralatan terbatas dan aturan tembak yang ketat senjata api hanya boleh digunakan untuk pertahanan diri di saat-saat paling kritis.
Namun netralitas tidak memberikan perlindungan nyata.
Pada malam 29 Maret 2026, proyektil menghantam markas UNIFIL di Adshit al-Qusayr. Satu prajurit gugur di tempat, tiga lainnya terluka. Belum genap 24 jam, ledakan kedua menghancurkan kendaraan konvoi logistik di Bani Hayyan, kendaraan yang membawa perbekalan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar, bukan amunisi.
Dua prajurit lagi meninggal. Dua lainnya kritis.
Total dalam dua hari: tiga prajurit Indonesia gugur, tujuh terluka. Ini merupakan kerugian terbesar dalam sejarah Kontingen Garuda sejak misi dimulai 19 tahun lalu. Ini juga pertama kalinya Indonesia harus memulangkan tiga peti jenazah sekaligus dari medan perdamaian.
Ketiga prajurit yang gugur telah diidentifikasi:
  • Praka Farizal Rhomadhon
  • Kapten Zulmi
  • Sertu Ihwan
Mereka adalah bagian dari generasi prajurit yang memilih tugas bukan di barisan tembak, melainkan di barisan pengamatan. Pilihan yang kini membuktikan bahwa di medan konflik modern, garis antara zona aman dan zona tembak semakin tipis.
PBB telah mengutuk serangan tersebut dan menuntut investigasi transparan. Kementerian Luar Negeri Indonesia mengecam keras serta meminta pertanggungjawaban.
Tapi yang tersisa kini adalah tiga keluarga di Jawa Timur yang menunggu kepulangan anaknya bukan dengan koper bercorak loreng, melainkan peti kayu berbendera merah putih.
Mereka dikirim untuk memastikan tidak ada korban lagi di Lebanon Selatan. Ironisnya, daftar korban mereka sendiri baru saja bertambah tiga nama.
Rest in Peace, prajurit. Garuda di dadamu, Indonesia di hatimu.

 

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *