Kementerian Intelijen Iran membongkar strategi baru Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dinilai tetap berambisi menggulingkan pemerintahan Republik Islam serta memecah belah wilayah mereka. Rencana penumbangan ini dilaporkan beralih ke metode nonmiliter, setelah skenario perang terbuka sebelumnya dinilai gagal mencapai target.
Melalui pernyataan resmi pada Rabu (27/5/2026), otoritas intelijen Teheran menyebut musuh-musuhnya kini menempuh jalur alternatif. Strategi baru tersebut mencakup pengetatan tekanan ekonomi, serta operasi penyelundupan senjata, amunisi, dan alat komunikasi ilegal secara masif ke wilayah Iran. Salah satu perangkat yang disorot dalam operasi gelap ini adalah terminal satelit Starlink untuk menyediakan akses internet independen.
Langkah nonmiliter ini menandai babak baru setelah konflik bersenjata selama 12 hari yang pecah tahun lalu. Sebelum perang terbuka tersebut meletus, konfrontasi antara Iran dan Israel didominasi oleh perang bayangan selama puluhan tahun, yang melibatkan aksi sabotase fasilitas nuklir hingga pembunuhan para ilmuwan Iran.
Hingga saat ini, Teheran menegaskan posisi politiknya yang tidak mengakui eksistensi Israel dan tetap menutup seluruh jalur hubungan diplomatik dengan negara tersebut.





