Intisari Laporan
  • Kemenpar memanfaatkan pelemahan rupiah akibat dinamika geopolitik global sebagai peluang untuk meningkatkan kunjungan dan durasi tinggal turis asing di Indonesia.
  • Fokus pasar pariwisata kini dialihkan ke wisatawan jarak dekat dan menengah (negara tetangga) guna menutupi penurunan kedatangan turis dari Eropa, AS, dan Timur Tengah.

Sorotandunia, Badung – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dimanfaatkan Kementerian Pariwisata sebagai momentum untuk menarik lebih banyak wisatawan asing sekaligus memperpanjang durasi tinggal mereka di Indonesia.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa meminta pelaku industri pariwisata segera merombak strategi bidikan pasar. Fokus promosi wisata kini diarahkan ke negara-negara tetangga dengan rute penerbangan jarak dekat dan menengah (short-haul dan medium-haul).

Pergeseran fokus ini merupakan langkah substitusi atas merosotnya kedatangan pelancong dari Eropa, Amerika, serta Timur Tengah yang terdampak langsung oleh konflik dan dinamika geopolitik global.

“Kami melihat ini (pelemahan rupiah) menjadi satu peluang bahwa Indonesia memiliki daya tarik yang lebih untuk dikunjungi dengan lama tinggal yang bisa lebih lama,” kata Ni Luh saat menghadiri pameran wisata Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Kabupaten Badung, Sabtu.

Tren peralihan pasar wisatawan ini sudah terpetakan sepanjang Januari hingga Maret 2026. Kementerian Pariwisata mencatat angka kunjungan turis jarak dekat dan menengah naik dibandingkan triwulan pertama 2025, menambal angka kunjungan dari pasar Timur Tengah yang mengalami penurunan.

Demi memaksimalkan momentum fluktuasi kurs saat ini, pemerintah terus menggenjot berbagai misi penjualan dan partisipasi dalam pameran internasional. Ni Luh menargetkan kolaborasi seluruh pihak industri dapat membuahkan catatan positif dari sisi kunjungan maupun devisa pariwisata yang kelak dirilis Bank Indonesia pada triwulan kedua 2026.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *