Kesal, Donald Trump Serang Balik Mojtaba Khamenei dan Tegaskan Iran Tidak Akan Dapat Uang
Donald Trump membantah keras tuduhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Hosseini Khamenei yang menyebut AS menandatangani MoU karena putus asa. Mojtaba Khamenei mengklaim nota kesepahaman 14 poin yang diteken pada...
Internasional - Donald Trump membantah keras tuduhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Hosseini Khamenei yang menyebut AS menandatangani MoU karena putus asa.
- Mojtaba Khamenei mengklaim nota kesepahaman 14 poin yang diteken pada Rabu (17/6) merupakan bukti bahwa Trump telah habis akal akibat tekanan perang.
- Trump membalas lewat media sosial dengan menyatakan ekonomi dan posisi politik Iran yang sebenarnya sudah tamat serta berada di posisi terjepit.
- Washington mengunci syarat ketat dalam sisa 60 hari perundingan teknis nuklir dengan mengancam membatalkan semua aliran dana kompensasi bagi Teheran.
Saling Tuding Kesiapan Diplomasi Washington-Teheran
Sorotandunia.com – Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak hanya berselang beberapa hari setelah kedua negara menyepakati klausul damai awal. Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kekesalannya setelah dituduh bertindak atas dasar keputusasaan oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Hosseini Khamenei. Konfrontasi verbal ini mencuat ke publik melalui respons terbuka yang dilemparkan oleh kedua belah pihak mengenai legitimasi nota kesepahaman (MoU) yang baru saja mereka sepakati.
Berdasarkan data yang dikutip dari CNN Indonesia, Trump memilih saluran media sosial miliknya, Truth Social, untuk mementahkan narasi yang dibangun oleh Teheran. Pada unggahan yang dirilis Jumat (19/6/2026), Trump membalikkan tudingan tersebut dengan menyebut rezim Iran yang sebenarnya sedang berada di ujung tanduk kekuasaan. “Kami tidak berunding karena putus asa. Justru Iran yang putus asa. Mereka SUDAH TAMAT,” tulis Trump dalam pernyataan resminya.
Akar Konflik Narasi Habis Akal
Pemicu utama kemarahan Trump berasal dari pidato publik yang disampaikan oleh Mojtaba Khamenei pada Kamis (18/6/2026). Dalam pernyataan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran itu menilai penandatanganan dokumen diplomatik oleh Washington merupakan indikasi kelemahan politik. Mojtaba secara spesifik mengomentari draf kesepakatan dan menyebut Trump terpaksa menandatangani berkas tersebut karena sudah kehabisan opsi taktis di lapangan.
Sindiran tajam dari Teheran ini mengarah pada keputusan AS untuk menyetujui cetak biru perdamaian pada Rabu (17/6/2026). Dokumen tersebut memuat 14 poin kesepakatan yang dirancang menjadi landasan utama pakta perdamaian jangka panjang. Salah satu poin paling sensitif di dalamnya mencakup kerelaan Washington untuk mencairkan aset-aset keuangan Iran yang bertahun-tahun dibekukan di lembaga keuangan global, di samping janji penghapusan berbagai sanksi ekonomi sekunder yang melilit negara tersebut.
Kompensasi Perang dan Ancaman Finansial Trump
Komitmen AS dalam dokumen tersebut sebenarnya cukup besar, termasuk kesediaan memberikan ganti rugi finansial atas dampak destruktif yang timbul dari konflik bersenjata pada 28 Februari lalu. Namun, serangan verbal dari Mojtaba mengubah konstelasi komitmen tersebut secara drastis. Trump langsung mengaitkan perang kata-kata ini dengan realisasi pembayaran dana kompensasi yang tertuang di dalam draf awal.
Arsitektur finansial yang awalnya dijanjikan kini terancam macet di tangan Trump. Sang Presiden menegaskan bahwa Iran tidak akan melihat sepeser pun uang tunai mengalir ke kas mereka jika sikap politik Teheran tidak berubah pada draf perjanjian final kelak. Kebijakan pemblokiran modal ini akan dijadikan instrumen penekan utama oleh Gedung Putih selama proses diplomasi tingkat tinggi berjalan.
Batas Krusial Negosiasi Nuklir 60 Hari
Sesuai dengan ketentuan Memorandum, kedua kekuatan militer ini kini memasuki fase krusial berupa periode perundingan teknis yang dijadwalkan berlangsung selama 60 hari ke depan. Ruang waktu dua bulan ini disiapkan sebagai arena pembuktian apakah komitmen awal bisa ditransformasikan menjadi kesepakatan akhir yang berkekuatan hukum tetap. Trump memastikan AS akan memanfaatkan periode ini untuk mendikte jalannya negosiasi tanpa memberikan kelonggaran ekonomi sebelum kesepakatan final disetujui. “Kita akan jalankan dulu periode perundingan 60 hari yang sudah ditetapkan. Mereka tidak akan dapat uang, bahkan sepuluh sen pun tidak!” pungkas Trump.
Fokus utama dari tim negosiator kedua negara dalam sisa waktu 60 hari ini akan tertuju sepenuhnya pada masa depan program nuklir Iran. Perdebatan sengit diprediksi terjadi saat membahas pembatasan ketat terhadap fasilitas pengayaan uranium (enriched uranium) yang telah diproduksi oleh Teheran. Keberhasilan pencairan dana beku dan penghapusan sanksi ekonomi dari Washington sepenuhnya digantungkan pada kerelaan Iran memangkas cadangan uranium mereka di meja perundingan nanti.













