Mojtaba Khamenei Setujui MoU Damai Iran-AS, Sebut Donald Trump Putus Asa
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memberikan restu resmi terhadap nota kesepahaman (MoU) damai antara Iran dan Amerika Serikat. Kesepakatan ini mengakhiri permusuhan secara permanen di seluruh front termasuk Lebanon, dibarengi...
Internasional - Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memberikan restu resmi terhadap nota kesepahaman (MoU) damai antara Iran dan Amerika Serikat.
- Kesepakatan ini mengakhiri permusuhan secara permanen di seluruh front termasuk Lebanon, dibarengi gencatan senjata awal selama 60 hari.
- Mojtaba Khamenei mengklaim Presiden AS Donald Trump berada dalam posisi putus asa sehingga memanfaatkan berbagai titik tawar demi mengamankan kesepakatan.
- Teheran berpotensi kembali ke ekosistem ekonomi global lewat pencabutan sanksi, pembukaan blokade, dan rencana rekonstruksi bernilai US$ 300 miliar.
Sorotandunia.com, Teheran – Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei resmi menyetujui nota kesepahaman damai antara Teheran dan Washington untuk mengakhiri konfrontasi bersenjata. Restu politik dari otoritas tertinggi Iran ini menjadi fondasi utama berjalannya kesepakatan yang ditandatangani jarak jauh oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (17/6/2026). Melansir laporan Detik News yang mengutip Press TV dan AFP, persetujuan ini menandai berakhirnya permusuhan secara permanen di semua front pertempuran, termasuk wilayah Lebanon.
Di Balik Restu Mojtaba Khamenei
Sikap resmi ini disiarkan melalui televisi pemerintah Iran pada Jumat (19/6/2026), yang menjadi respons perdana Mojtaba Khamenei ke publik setelah dokumen bilateral diteken. Dalam pidato tertulisnya, Mojtaba menuding Donald Trump menggunakan instrumen negosiasi secara agresif karena berada dalam posisi terdesak. Motivasi Washington dinilai murni didorong oleh keputusasaan politik untuk segera mengamankan stabilitas di Timur Tengah.
“Dalam proses mencapai tahap ini, para pejabat, tentu dengan belas kasih dan niat baik, telah melakukan banyak upaya. Dan tentu saja, Presiden AS-lah yang, karena putus asa, menggunakan berbagai titik tawar untuk tujuan ini,” ujar Mojtaba Khamenei dalam pernyataan tertulis yang dirilis sejak Kamis (18/6/2026).
Restu yang keluar dari kantor Pemimpin Tertinggi tidak turun begitu saja. Mojtaba mengakui secara terbuka bahwa dirinya sempat memiliki pandangan yang berbeda dan bertolak belakang mengenai substansi nota kesepahaman tersebut. Perubahan sikap ini terjadi setelah Masoud Pezeshkian memberikan jaminan politik yang kuat di dalam internal pemerintahan.
Pakta bilateral ini langsung mengaktifkan status gencatan senjata selama 60 hari di wilayah-wilayah konflik. Sebagai timbal balik ekonomi, AS berkomitmen mencabut blokade terhadap Iran dan memulihkan arus lalu lintas komersial di kawasan strategis Selat Hormuz. Dokumen kesepakatan tersebut juga merinci agenda pemulihan ekonomi pascaperang, termasuk pembahasan rencana rekonstruksi masif senilai US$ 300 miliar dan penghapusan sanksi ekonomi unilateral yang selama ini menjerat Iran.
Jaminan Keamanan Front Perlawanan
Masoud Pezeshkian, yang bertindak selaku ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, meyakinkan bahwa hak-hak mendasar bangsa Iran tidak akan dikorbankan dalam meja perundingan. Komitmen tertulis itu juga mencakup perlindungan penuh terhadap eksistensi jaringan proksi mereka di regional, yang dikenal sebagai Front Perlawanan. Jaminan dari jajaran eksekutif ini yang akhirnya melunakkan sikap keras Mojtaba Khamenei terhadap klausul perdamaian dengan AS.
“Pada prinsipnya, saya memiliki pandangan yang berbeda, tetapi saya memberikan izin saya karena komitmen yang diberikan oleh Presiden yang terhormat, sebagai ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, atas nama dirinya sendiri dan anggota lainnya untuk melindungi hak-hak bangsa Iran dan Front Perlawanan,” kata Mojtaba.
Integrasi kembali Iran ke dalam sistem perekonomian global kini sepenuhnya bergantung pada kepatuhan Teheran dalam memenuhi seluruh komitmen yang tertera dalam dokumen perjanjian. Kendati demikian, faksi konservatif Iran menegaskan bahwa keterbukaan diplomatik ini memiliki batasan yang ketat. Pezeshkian telah mengonfirmasi kepada Pemimpin Tertinggi bahwa posisi tawar Iran tidak akan goyah oleh tekanan eksternal dari Washington.
Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa negosiasi tatap muka yang dijadwalkan berlangsung di masa mendatang bukan merupakan sinyal tunduknya Teheran pada kepentingan Amerika Serikat. “Jelas bahwa negosiasi tatap muka yang akan berlangsung di masa mendatang, tidak akan berarti menerima sudut pandang musuh,” ucapnya menolak tuntutan berlebihan dari AS.













