Blokade Selat Hormuz Bayangi Negosiasi Nuklir AS Iran di Swiss
Negosiasi tingkat teknis antara As Iran dijadwalkan mulai berlangsung di Burgenstock, Swiss, pada hari Minggu, setelah sempat tertunda pada hari Jumat akibat absennya delegasi Teheran Korps Garda Revolusi Islam Iran...
Internasional - Negosiasi tingkat teknis antara As Iran dijadwalkan mulai berlangsung di Burgenstock, Swiss, pada hari Minggu, setelah sempat tertunda pada hari Jumat akibat absennya delegasi Teheran
- Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memberlakukan kembali pembatasan ketat di Selat Hormuz sebagai respons atas kelanjutan agresi militer Israel di Lebanon dan kegagalan AS menjaga komitmen gencatan senjata.
- Serangan udara Israel di Lebanon terus memakan korban jiwa besar, menewaskan 83 orang pada hari Jumat dan sedikitnya 32 orang pada hari Sabtu, meski kesepakatan gencatan senjata dengan Hizbullah diklaim tercapai.
- Perundingan di Swiss ini merupakan mandat dari Nota Kesepahaman (MoU) awal pekan yang mewajibkan penyusunan kesepakatan final dalam waktu 60 hari demi menghentikan operasi militer secara permanen.
Krisis Selat Hormuz di Meja Perundingan Swiss
Sorotandunia.com – Diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran akan berlangsung di resor pegunungan Burgenstock, Swiss. Pakistan mengonfirmasi bahwa perundingan yang sempat tertunda pada hari Jumat dipastikan mulai berjalan pada hari Minggu. Pembicaraan tingkat teknis ini bergulir membawa beban berat, tepat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan pemberlakuan kembali pembatasan di Selat Hormuz. Langkah drastis Teheran memblokade jalur perairan strategis tersebut dipicu oleh eskalasi serangan militer Israel di Lebanon, yang dinilai melanggar komitmen internasional.
Otoritas maritim Iran telah mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh awak kapal komersial untuk menjauh dari Selat Hormuz, dengan penegasan bahwa jaminan keamanan tidak lagi berlaku bagi yang melanggar. Melansir laporan Al Jazeera, penutupan selat merupakan kartu truf diplomatik Teheran untuk menekan Washington agar mengendalikan sekutunya. Mohammad Mokhber, penasihat pemimpin tertinggi Iran, memperingatkan secara terbuka bahwa pasokan energi global dari kawasan Timur Tengah akan terhenti total selama dokumen kesepakatan antara AS dan Iran hanya berakhir sebagai retorika di atas kertas.
Eskalasi Militer Lebanon Hambat Komitmen MoU
Ketegangan geopolitik ini memuncak justru setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada awal pekan. Dokumen tersebut sebenarnya mengamanatkan penghentian permanen operasi militer di semua lini, termasuk wilayah Lebanon, serta mewajibkan tercapainya kesepakatan final dalam jangka waktu 60 hari dengan opsi perpanjangan berbasis persetujuan bersama. Realitas di lapangan bergerak berbalik arah. Israel tetap melancarkan pemboman masif di Lebanon sepanjang akhir pekan.
Data Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat serangan udara Israel pada hari Jumat menewaskan 83 orang dan melukai 141 lainnya. Dampak fatal ini membuat Iran membatalkan pengiriman delegasinya pada hari yang sama, menyebabkan pembicaraan di Swiss sempat mati suri. Meski Israel mengklaim telah menyetujui gencatan senjata baru dengan Hizbullah pada hari Jumat, laporan pertahanan sipil dan media pemerintah Lebanon menunjukkan gerak militer Israel terus berlanjut hingga Sabtu, merenggut sedikitnya 32 nyawa tambahan. James Bays dari Al Jazeera melaporkan dari Burgenstock bahwa pihak Iran memandang rentetan serangan pasca-MoU ini sebagai pelanggaran fatal yang merusak fondasi kepercayaan antar pihak.
Mobilisasi Diplomatik
Mengatasi kebuntuan tersebut, mediator internasional dari Pakistan dan Qatar bergerak cepat melakukan diplomasi di balik layar sebelum pembicaraan formal hari Minggu dimulai. Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, memimpin serangkaian pertemuan intensif. Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menggalang dukungan di Mesir, sementara Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi melakukan kunjungan diplomasi langsung ke Iran untuk memastikan delegasi Teheran bersedia menuju Swiss.
Komposisi delegasi Iran yang hadir di Swiss kali ini menunjukkan keseriusan tingkat tinggi, melibatkan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, serta jajaran pejabat senior lainnya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan posisi negaranya akan sangat keras dalam menuntut pemenuhan kewajiban AS. Melalui siaran resmi IRIB Iran, Baghaei menyatakan kepatuhan penuh Washington terhadap draf sementara menjadi syarat mutlak, mengingat rekam jejak AS yang kerap gagal menghormati komitmen pada masa lalu.
Dari kubu seberang, Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi bahwa tim negosiator utama Washington yang dipimpin oleh Jared Kushner dan Steve Witkoff telah berada di lokasi untuk merinci detail teknis program nuklir Iran. Vance menjadwalkan keberangkatan dirinya ke Swiss dalam beberapa hari ke depan, meski ia mengakui koordinasi di lapangan sangat rumit. Di koridor militer, Amerika Serikat merespons ancaman pemblokiran jalur laut secara taktis. Komando Militer AS menyatakan pasukan mereka tetap bersiaga dan beroperasi di wilayah umum Selat Hormuz guna memastikan kepatuhan penuh terhadap isi perjanjian. Pihak Pentagon melaporkan sebanyak 55 kapal komersial masih berhasil melintasi selat tersebut dengan aman pada hari Sabtu.













