Donald Trump Ancam Serang Iran Lagi Jika Selat Hormuz Tidak Dibuka

JD Vance berbicara selama perundingan perdamaian di Swiss Internasional
JD Vance (kiri) berbicara selama perundingan perdamaian di Swiss Foto: (AP/Fabrice Coffrini)
-AA+
comment 2 Created with Sketch Beta. 0 Komentar
  • Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman militer baru untuk menyerang Iran dengan intensitas yang jauh lebih keras dibandingkan serangan pekan lalu.
  • Langkah agresif Washington dipicu oleh keputusan Iran yang kembali memblokade Selat Hormuz lantaran menganggap AS ingkar janji dalam meredam konflik di Lebanon.
  • Ketegangan ini meledak di tengah berjalannya proses negosiasi damai awal antara Wakil Presiden AS JD Vance dan delegasi Iran di Swiss.

Gertakan Militer Donald Trump

Sorotan Dunia – Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersiap meluncurkan operasi militer lanjutan ke wilayah Iran. Ancaman perang ini mencuat di tengah upaya diplomasi yang sedang dirintis oleh pemerintahannya sendiri.

Berdasarkan data yang dikutip dari Detik News, Trump menegaskan kesiapannya untuk memerintahkan serangan berskala besar yang jauh lebih fatal daripada operasi militer Washington pada pekan lalu.

Sasaran utama kemarahan Trump tertuju pada pergerakan kelompok proksi bentukan Teheran di Lebanon, khususnya Hizbullah. Trump menuntut agar aktivitas militer kelompok tersebut segera dihentikan total. Jika peringatan ini diabaikan, militer Amerika Serikat dipastikan bakal menghantam jantung pertahanan Iran tanpa ragu.

Blokade Selat Hormuz

Ketegangan baru ini dipicu oleh keputusan mendadak pemerintah Iran yang memblokir kembali akses pelayaran di Selat Hormuz. Teheran menilai Washington telah gagal total dalam memenuhi poin kesepakatan untuk menghentikan pertempuran di Lebanon. Wilayah Lebanon sendiri sudah diguncang invasi oleh militer Israel, yang notabene merupakan sekutu terdekat Amerika Serikat, sejak Maret lalu.

Tindakan Iran menutup jalur perdagangan minyak dunia tersebut langsung merusak kesepakatan yang baru berusia seumur jagung. Padahal, nota kesepahaman (MoU) yang diteken kedua belah pihak seminggu lalu dengan tegas mewajibkan pembukaan Selat Hormuz beserta penghentian segala bentuk konfrontasi senjata di kawasan Timur Tengah.

Diplomasi di Swiss yang Terancam Kandas

Ironisnya, ancaman serangan dari Trump keluar ketika Wakil Presiden AS JD Vance tengah menggelar tatap muka langsung dengan para pejabat tinggi Iran. Pertemuan tingkat tinggi ini berlangsung di sebuah resor pegunungan kawasan Bergenstock milik Qatar yang berlokasi di Swiss.

Dialog di Swiss ini merupakan momentum perdana bagi kedua negara musuh bebuyutan tersebut untuk duduk bersama pasca-penandatanganan MoU. Misi utama JD Vance sebenarnya adalah merumuskan draf awal menuju kesepakatan perdamaian sementara. Namun, manuver penutupan selat oleh Teheran dan gertakan bom dari Trump kini membuat masa depan negosiasi damai tersebut berada di ujung tanduk.

Rekomendasi Untuk Anda

Follow WhatsApp Channel Sorotan Dunia untuk Notifikasi Berita Terbaru Setiap Hari
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *