Sudah lebih dari empat puluh hari sejak konfrontasi terbuka antara Israel dan Iran meletus. Namun, gambaran kemenangan cepat yang sempat dibayangkan oleh para elite keamanan di Tel Aviv tampaknya mulai memudar, berganti dengan realitas lapangan yang jauh lebih rumit dan keras. Apa yang awalnya diprediksi sebagai langkah taktis untuk meruntuhkan kekuasaan di Teheran, kini justru terlihat seperti bumerang yang berisiko menghantam balik sang arsitek politiknya sendiri, Benjamin Netanyahu.
Dalam kacamata intelijen, ada sebuah fenomena yang sering disebut sebagai “bias optimisme”. Inilah yang tampaknya terjadi di lingkaran dalam Mossad. Roman Gofman, sosok yang digadang-gadang akan memimpin badan intelijen luar negeri tersebut mulai Juni mendatang, sempat meyakini bahwa gempuran militer masif dapat memicu keruntuhan instan pemerintahan Iran. Strategi yang diusung cukup klasik: serangan udara gabungan, operasi intelijen senyap, dan harapan akan adanya mobilisasi massa dari dalam Iran untuk menggulingkan rezim.
Namun, sejarah berulang kali mengajarkan bahwa perubahan rezim melalui intervensi luar jarang sekali berjalan sesuai rencana di atas kertas. Meski serangan awal berhasil menargetkan infrastruktur vital bahkan hingga figur tertinggi seperti Ali Khamenei, struktur kekuasaan di Teheran terbukti tidak serapuh yang dibayangkan. Alih-alih runtuh, Iran justru menunjukkan konsolidasi internal yang lebih keras di bawah kepemimpinan baru yang didukung penuh oleh Garda Revolusi (IRGC).
Ketidaksesuaian prediksi ini memunculkan gesekan internal di tubuh keamanan Israel. Sementara Mossad sangat percaya diri dengan janji “perubahan rezim”, pihak militer (IDF) justru bersikap lebih pragmatis. Mereka lebih melihat perang ini sebagai upaya melemahkan kekuatan lawan, bukan menjanjikan kejatuhan pemerintahan secara total dalam waktu singkat. “Janji-janji yang tak terpenuhi” dari Mossad kini menjadi catatan kritis di tengah berlanjutnya konflik yang kian menguras sumber daya.
Di sisi lain, sosok Roman Gofman sendiri memicu perdebatan. Penunjukannya oleh Netanyahu dianggap sebagai langkah yang tidak lazim karena ia berasal dari latar belakang militer murni, bukan kader organik Mossad. Bagi sebagian pengamat, ini bukan sekadar soal regenerasi, melainkan upaya Netanyahu untuk memastikan loyalitas di puncak lembaga intelijen. Di tengah gelombang pengunduran diri para pejabat keamanan pasca-tragedi 7 Oktober 2023, Netanyahu praktis menjadi satu-satunya wajah lama yang bertahan di puncak kekuasaan.
Kini, pertanyaannya bukan lagi kapan perang berakhir, tapi bagaimana Israel keluar dari jebakan ekspektasi yang mereka buat sendiri. Menggantungkan strategi nasional pada narasi “perubahan rezim” yang tidak pasti bisa menjadi langkah yang sangat berisiko. Jika rezim di Teheran tetap berdiri kokoh setelah serangan bertubi-tubi, legitimasi strategi intelijen Israel akan dipertanyakan, dan posisi politik Netanyahu akan semakin terjepit di tengah tekanan domestik maupun internasional.
Pada akhirnya, perang ini bukan sekadar adu kekuatan rudal dan spionase, melainkan perang ketahanan. Mimpi kejayaan yang semula diharapkan menjadi panggung pembuktian bagi Netanyahu dan calon kepala Mossad yang baru, kini justru berubah menjadi ujian berat: apakah mereka sanggup menghadapi realitas bahwa musuh mereka jauh lebih tangguh dari sekadar angka-angka dalam laporan intelijen?
Sumber Referensi: Adaptasi analisis dari laporan CNBC Indonesia (16 April 2026): “Mossad Meleset, Mimpi Kejayaan di Perang Iran Jadi Bumerang Netanyahu”.





