Upaya perundingan yang dilakukan oleh AS dengan Iran yang ditengahi oleh Pakistan di Islamabad berbuah hasil kebuntuan di kedua belah pihak. Perundingan yang dilakukan selama 21 jam negosiasi secara intensif, JD Vance mengatakan tidak adanya kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang secara permanen. Dari kegagalan negosiasi memicu kekhawatiran akan dampaknya peningkatan konflik yang berkelanjutan lebih lama.

Dari pihak Iran menyebut tuntutan yang dilakukan oleh Amerika Serikat tidak masuk akal, sementara dari pihak AS menganggap kegagalan, Iran menolak tawaran negosiasi terakhir.

Red Line yang Tak Bisa Dijembatani

Kegagalan 21 jam marathon diplomasi ini bukan tanpa bekas. Dari keterangan Wakil Presiden AS JD Vance, pihaknya telah membuat “tawaran terakhir dan terbaik” yang menurutnya cukup fleksibel, namun Iran memilih untuk tidak menerima. Sementara media negara Iran, IRIB, menyebut tuntutan AS sebagai “unreasonable demands” yang menghalangi kemajuan pembicaraan.

Tiga isu utama menjadi pemicu buntu: pertama, komitmen jangka panjang Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. AS menuntut jaminan ini bukan hanya untuk sekarang atau dua tahun ke depan, tapi untuk jangka panjang, sesuatu yang belum dilihat Washington dari Tehran. Kedua, pengendalian Selat Hormuz yang menjadi garis hidup ekonomi Iran sekaligus posisi tawar utama mereka. Ketiga, ganti rugi perang dan pembebasan aset Iran yang dibekukan, dengan nilai mencapai miliaran dolar.

Yang menarik, Iran sebenarnya datang dengan niat baik namun penuh kecurigaan. Menlu Abbas Araghchi sebelumnya menyatakan Iran memasuki perundingan dengan “complete distrust” terhadap AS karena pengalaman pahit JCPOA . Sementara AS datang dengan posisi bahwa Iran “tidak punya kartu” selain ancaman jangka pendek ke jalur perdagangan global.

Saling Lempar Tanggung Jawab

JD Vance tidak menyembunyikan kekecewaan. Dalam konferensi pers di Islamabad, ia menegaskan akan kembali ke Washington tanpa kesepakatan dan menyebut kegagalan ini “lebih buruk bagi Iran daripada bagi AS”. Ia juga mengklaim telah berkomunikasi terus-menerus dengan Trump, Rubio, dan jajaran keamanan nasional selama proses berlangsung.

Sementara itu, Iran melalui IRIB menekankan bahwa delegasi mereka telah bernegosiasi “continuously and intensively” dengan berbagai inisiatif, namun tuntutan AS yang berlebihan menghalangi progress. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menlu Araghchi tetap membuka pintu untuk diplomasi selanjutnya, meski dengan catatan: kesuksesan tergantung pada “seriousness and good faith” dari Washington.

Apa yang Terjadi di Balik Meja Hijau?

Kegagalan ini sebenarnya bukan soal waktu. 21 jam cukup lama untuk menunjukkan bahwa kedua belah pihak serius, tapi juga cukup panjang untuk membuktikan ada jurang yang terlalu lebar untuk dijembatani. AS datang dengan pendekatan “maksimalis”, mungkin karena tekanan politik domestik dan posisi Israel yang mengawasi ketat. Iran datang dengan “red line” yang tidak bisa digoyahkan, dipicu oleh trauma JCPOA dan kebutuhan untuk menunjukkan kekuatan domestik.

Pakistan sebagai mediator berada dalam posisi yang cukup unik. PM Shehbaz Sharif berhasil mempertemukan kedua belah pihak yang tidak percaya satu sama lain, tapi tidak berhasil menjamin kesepakatan. Ini bukan kekalahan bagi Islamabad, tapi juga bukan kemenangan. Status Pakistan sebagai “honest broker” di dunia Islam tetap terjaga, namun pengaruhnya untuk mengakhiri konflik masih terbatas.

Dampak yang Terlihat dan yang Tersembunyi

Secara langsung, kegagalan ini memperpanjang gencatan senjata sementara yang sudah berjalan tanpa kepastian jangka panjang. Secara ekonomi, harga minyak dunia yang sempat turun setelah pengumuman gencatan senjata kemungkinan akan kembali naik karena ketidakpastian. Secara geopolitik, ini menunjukkan bahwa perang proxy dan sanksi ekonomi lebih mudah dimulai daripada diakhiri.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah sinyal yang dikirim ke kawasan. Jika 21 jam mediasi tingkat tinggi tidak cukup, apa yang bisa? Kedua belah pihak kini kembali ke posisi semula: AS dengan kapal perang yang sedang diisi ulang amunisi “terbaik yang pernah dibuat”, dan Iran dengan ribuan peluncur rudal di bawah tanah yang masih siaga.

Masih Ada Jalan?

Vance menyebut tawaran AS sebagai “final and best offer”, tapi sejarah diplomasi menunjukkan “final offer” seringkali bukan yang terakhir. Pertanyaannya adalah apakah ada mediator lain yang bisa mengisi celah yang ditinggalkan Pakistan. Oman dan Qatar pernah berperan di masa lalu, tapi dengan seluruh dunia kini fokus ke Islamabad, opsi tersebut tampak sekunder.

Yang jelas, kedua belah pihak masih berbicara, itu tanda bahwa perang total bukan pilihan yang diinginkan. Tapi dengan “complete distrust” dari satu sisi dan “red lines” yang keras dari sisi lain, jalan menuju perdamaian tetap berliku. Seperti yang dikatakan Vance: “We’ll see if the Iranians accept it” . Dunia akan menunggu.

sumber referensi: Haaretz, CBS News, Jerusalem Post, KabarBursa

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *