Rekor Baru, Pasar Otomotif Tiongkok Tembus 66,7 Persen Didominasi Kendaraan Listrik / EV
Baca Artikel Singkat 10 detik • Kendaraan listrik (murni dan hibrida plug-in) menguasai rekor 66,7 persen penjualan mobil baru di Tiongkok daratan pada minggu pertama Juni. • Krisis energi global...
Bisnis Pasar otomotif Tiongkok daratan mencatat rekor baru setelah kendaraan listrik menguasai dua per tiga dari total penjualan mobil baru pada pekan pertama Juni. Melansir laporan South China Morning Post (SCMP), kendaraan listrik murni maupun hibrida plug-in menyumbang 66,7 persen penjualan dalam tujuh hari yang berakhir pada 7 Juni. Pengiriman EV di periode tersebut melampaui 152.000 unit, tumbuh 8 persen dibanding periode yang sama bulan sebelumnya.
Lonjakan ini terjadi di tengah penurunan pangsa pasar mobil berbahan bakar bensin secara konsisten. Data Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA) menunjukkan tingkat penetrasi EV merangkak naik dari 62,9 persen pada Mei. Gelombang model EV pintar baru yang beredar di pasar menjadi faktor utama penopang tingginya permintaan konsumen.
Konflik di Timur Tengah yang meletus sejak 28 Februari serta penutupan Selat Hormuz oleh Teheran memberi katalis mendadak bagi industri EV Tiongkok. Jalur pelayaran tersebut mengontrol seperempat ekspor minyak mentah global. Hambatan distribusi ini memicu kekhawatiran konsumen terhadap lonjakan biaya bahan bakar. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak lebih dari 60 persen sepanjang akhir Februari hingga April, sebelum kemudian stabil di kisaran US$86 per barel. Analisis UBS pada awal Maret menyebutkan, harga minyak di level US$90 per barel menambah beban pengeluaran pemilik mobil bensin hingga 2.000 yuan per tahun.
Pergeseran minat pasar terlihat nyata pada performa penjualan bulanan. Sepanjang Mei, tidak ada satu pun merek mobil bensin Tiongkok yang berhasil menembus daftar 10 model kendaraan terlaris di negara tersebut. Pabrikan EV domestik seperti BYD dan Leapmotor memanfaatkan momentum ini dengan mempercepat peluncuran produk baru dalam ajang Auto China di Beijing pada akhir April. Model-model anyar ini dilengkapi fungsi mengemudi otonom tingkat dasar, baterai performa tinggi, serta kokpit digital canggih.
Pertumbuhan masif ini tercapai ketika pemerintah Tiongkok justru memotong berbagai dukungan finansial. Beijing memangkas subsidi dan insentif pajak secara bertahap, yang sempat membuat awal penjualan tahun ini melambat.
Konsumen yang membeli EV seharga 100.000 yuan (US$14.765) kini hanya menerima subsidi 12.000 yuan, merosot 40 persen dari tahun lalu. Aturan bebas pajak pembelian kendaraan sebesar 10 persen juga sudah dihapus, digantikan tarif pungutan 5 persen.
Keberhasilan penetrasi pasar domestik mengukuhkan posisi Tiongkok yang menyumbang 70 persen dari total penjualan EV global pada tahun 2025 berdasarkan data CPCA. Sebaliknya, raksasa otomotif internasional seperti Volkswagen dan Toyota terus kehilangan pijakan akibat transisi elektrifikasi yang lambat.
Gabungan produsen mobil asing kini hanya menguasai 30,3 persen pangsa pasar Tiongkok per April, anjlok dari 39,8 persen pada kuartal pertama. Angka ini juga menunjukkan penurunan dibanding penguasaan pasar mereka di sepanjang tahun 2025 sebesar 34,7 persen.
Kendati penjualan EV sedang melonjak, sejumlah lembaga keuangan global tetap memasang sikap waspada terhadap industri otomotif Tiongkok secara keseluruhan. Kelebihan kapasitas produksi dan pencabutan subsidi pemerintah menjadi alasan utama proyeksi penurunan pasar.
Deutsche Bank memperkirakan total penjualan kendaraan di Tiongkok (mencakup mobil bensin dan EV) akan turun 5 persen tahun ini, sementara UBS memproyeksikan penurunan sebesar 2 persen.
Sumber: SCMP











