Mantan Bos Honda Gagal Gulingkan CEO Toshihiro Mibe
Baca 10 detik Baca 10 Detik Sejumlah mantan petinggi Honda Motor, termasuk eks CEO Nobuhiko Kawamoto, bergerak secara rahasia mendesak CEO Toshihiro Mibe untuk meletakkan jabatan pada April lalu. Mibe...
Bisnis - Sejumlah mantan petinggi Honda Motor, termasuk eks CEO Nobuhiko Kawamoto, bergerak secara rahasia mendesak CEO Toshihiro Mibe untuk meletakkan jabatan pada April lalu.
- Mibe dituduh abai terhadap pasar otomotif China hingga pangsa pasar anjlok ke bawah 3%, serta melakukan investasi keliru pada sektor kendaraan listrik (EV) yang memicu potensi kerugian hingga $12 miliar.
- Toshihiro Mibe berhasil mempertahankan posisinya berkat dukungan komite dewan direksi independen, meski ia harus menerima sanksi pemotongan gaji sebesar 30% selama tiga bulan.
Desakan Mundur dari Senior Perusahaan
Sorotandunia.com – Gejolak melanda ruang kemudi Honda Motor setelah gerakan rahasia para mantan petinggi perusahaan bocor ke publik. Melansir laporan Reuters, mantan CEO Honda Nobuhiko Kawamoto mendatangi langsung kantor pusat di Tokyo pada April lalu demi meminta Kepala Eksekutif Toshihiro Mibe meletakkan jabatannya. Pergerakan ini didahului oleh diskusi intensif via pesan teks dan pertemuan tertutup sejak akhir tahun lalu oleh para alumni eksekutif.
Kawamoto membenarkan adanya pertemuan langsung dengan Mibe, meski menolak merinci isi pembicaraan. Gerakan ini dipicu oleh akumulasi kekecewaan para senior terhadap strategi bisnis Mibe yang dinilai menjauhkan Honda dari prinsip dasar perusahaan.
Kegagalan Strategi EV dan Kehilangan Pasar China
Para mantan bos menuding Mibe sebagai penyebab utama kemunduran raksasa otomotif Jepang ini. Kebijakan Mibe yang agresif memprioritaskan kendaraan listrik (EV-first) disebut sebagai taruhan gagal. Akibatnya, Honda terpaksa membatalkan pengembangan tiga model mobil listrik dan menghapus biaya terkait sebesar $9 miliar bulan lalu, dengan total proyeksi kerugian mencapai $12 miliar. Krisis ini mengancam Honda mencatat kerugian tahunan pertamanya dalam tujuh dekade.
Ketidakpuasan internal semakin meruncing karena Mibe dinilai mengabaikan pasar China yang merupakan pusat pertumbuhan otomotif global. Selama masa kepemimpinannya, pangsa pasar Honda di Tiongkok merosot tajam dari 8% pada tahun 2020 menjadi di bawah 3% tahun lalu. Dokumen internal yang dikutip Reuters menyebutkan bahwa Mibe sangat jarang mengunjungi genba (tempat kerja nyata) di China maupun menghadiri pameran otomotif di sana. Para penentangnya bahkan menyindir Mibe lebih fokus pada urusan sponsor golf perusahaan ketimbang mengurus bisnis inti.
Perisai Dewan Direksi dan Sanksi Potong Gaji
Upaya penggulingan ini menemui jalan buntu. Mibe menolak mundur dan tetap bertahan di posisinya karena mengantongi dukungan penuh dari komite nominasi dewan direksi. Sistem tata kelola perusahaan Honda yang kini melibatkan lebih banyak direktur independen berhasil memangkas pengaruh tradisional para mantan sekutu Kawamoto.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kinerja buruk unit roda empat, Mibe dijatuhi hukuman pemotongan gaji sebesar 30% selama tiga bulan. Di sisi lain, ketegangan di internal pekerja juga merembet ke sektor produksi. Divisi sepeda motor yang sukses meraup laba rekor $4,6… miliar tahun lalu merasa tidak puas karena pendapatan mereka digunakan untuk menyubsidi kerugian divisi mobil.
Langkah Penyelamatan Mandiri
Guna meredam krisis, Mibe sempat menolak usulan bank Jepang untuk memisahkan bisnis kendaraan listriknya menjadi entitas mandiri. Ia bersikeras bahwa Honda harus memperbaiki masalah lini EV secara independen tanpa suntikan dana eksternal. Rencana efisiensi baru kini dicanangkan, termasuk memotong 30% biaya produksi mesin hibrida baru dan mengembalikan para insinyur pengembangan ke anak perusahaan R&D demi memicu kembali inovasi.
Pihak Honda mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan tidak mengetahui adanya pergerakan dari para mantan eksekutif. Manajemen mengklaim fokus pada genba tetap berjalan dan urusan sponsor olahraga telah memenuhi tanggung jawab sosial perusahaan. Pengamat industri dari SBI Securities, Koji Endo, menilai posisi rekayasa Honda saat ini berada di titik kritis karena biaya produksi tetap tinggi sementara kemampuan pengembangan mobil justru menurun.












