Sorotandunia.com – Tuntutan baru Amerika Serikat dalam proposal perdamaian Timur Tengah memicu reaksi keras dari Teheran. Presiden AS Donald Trump dilaporkan mengubah dan memperketat persyaratan kesepakatan guna mengakhiri perang yang pecah sejak 28 Februari lalu. Langkah Washington ini berpotensi mengulur waktu negosiasi yang sedang berjalan.
Melansir laporan detik.com yang mengutip AFP, The New York Times, dan Axios, dokumen kerangka kerja terbaru tersebut sudah dikirimkan kembali kepada pemerintah Iran. Trump memasukkan poin krusial yang menjadi prioritas utamanya, meliputi kepastian Iran tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur laut yang kini diblokade tersebut sangat vital karena menjadi rute bagi 20 persen pasokan minyak dunia.
Gedung Putih mengambil keputusan ini setelah Trump menggelar pertemuan di Ruang Situasi pada hari Jumat. Seorang sumber AS menyebutkan, draf proposal itu sebenarnya hanya tinggal menunggu persetujuan presiden sebelum akhirnya Trump memilih merombak isi kesepakatan menjadi lebih keras.
Respons tegas langsung datang dari Ibu Kota Teheran. Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan secara terbuka bahwa pihaknya tidak akan menandatangani perjanjian apa pun jika hak-hak rakyat Iran diabaikan. Iran menuntut pemulihan hak utama mereka, yang mencakup pencabutan sanksi ekonomi serta pelepasan aset-aset negara yang dibekukan di bank luar negeri.
Melalui siaran video di televisi pemerintah, Ghalibaf menyatakan tim delegasi Iran sama sekali tidak mempercayai kata-kata maupun janji dari pihak musuh. Pernyataan ini mempertegas posisi Iran yang menolak tunduk pada tekanan baru Washington, di tengah situasi Timur Tengah yang masih membara akibat serangan gabungan AS dan Israel beberapa bulan lalu.





