Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) merosot pada penutupan perdagangan Kamis (28/5/2026). Data Bloomberg menunjukkan mata uang garuda berakhir di level Rp 17.845 per dollar AS. Angka ini mencerminkan pelemahan 44,5 poin atau sebesar 0,25 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Pergerakan kurs sempat menunjukkan volatilitas tinggi sejak pagi. Rupiah sempat terperosok ke posisi Rp 17.906 pada pukul 10.58 WIB sebelum akhirnya sedikit menguat di penutupan. Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mencatat adanya tekanan ganda dari faktor eksternal dan internal yang membebani nilai tukar.
Situasi geopolitik global menjadi pemicu utama dari luar. Konflik Iran dan AS yang kian panas pasca serangan baru AS memicu kekhawatiran serangan balasan. Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam akan menyerang Oman karena posisi negara tersebut dalam negosiasi damai. Di Eropa, serangan ratusan drone dan rudal Rusia ke Kyiv membuat Ukraina mendesak bantuan tambahan dari AS.
Ketegangan di Timur Tengah dan Eropa Timur ini langsung mengerek harga minyak mentah dunia. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak ke kisaran 96 dollar AS per barrel. Kondisi ini memperkuat ekspektasi inflasi global tetap tinggi. Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari menyatakan bahwa inflasi saat ini menjadi kekhawatiran utama bank sentral AS dibandingkan kondisi pasar tenaga kerja. Akibatnya, The Fed diperkirakan menahan suku bunga tinggi lebih lama, yang otomatis memperkuat posisi dollar AS terhadap mata uang negara berkembang.
Kondisi dalam negeri ikut memperparah keadaan. Permintaan dollar AS melonjak untuk kebutuhan impor minyak, pembayaran dividen perusahaan, dan pelunasan utang luar negeri yang jatuh tempo. Ibrahim mengamati adanya tren masyarakat memindahkan dana mereka ke instrumen valuta asing akibat ketidakpastian pasar.
Investor juga menyoroti masalah tata kelola pada sejumlah program pemerintah. Isu manajemen pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kerugian puluhan triliun rupiah terkait Koperasi Merah Putih menciptakan sentimen negatif di pasar. Para pelaku pasar mengkhawatirkan bobroknya manajemen pemerintahan dalam menangani persoalan tersebut.
Ibrahim memprediksi tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), nilai tukar diperkirakan bergerak mendekati level psikologis Rp 18.000 per dollar AS dengan potensi pelemahan hingga 100 poin.



