Harga Batu Bara Ambruk ke Level Terendah Dua Bulan Terakhir

Harga Batu Bara Ekonomi
Ilustrasi: Mesin-mesin berat sedang memuat batu bara di pelabuhan. Foto: Pexels
-AA+
comment 2 Created with Sketch Beta. 0 Komentar
  • Harga batu bara ambruk sebesar 0,43% ke posisi US$ 128,5 per ton pada penutupan perdagangan Kamis (15/6/2026), menjadi level terendah sejak dua bulan lalu./li>
  • Total penurunan dalam dua hari terakhir mencapai 2,3% akibat dinamika pasar global dan adu kekuatan konsumsi energi antara China dan India.
  • Krisis geopolitik perang AS-Israel lawan Iran melambungkan harga LNG global hingga 143%, memicu Jepang dan Korea Selatan beralih ke batu bara.
  • Kebijakan inspeksi keselamatan pascakecelakaan tambang di China memangkas produksi domestik dan mendorong lonjakan impor seaborne komoditas ini.

Sorotan Energi – Pasar komoditas energi global kembali diguncang pelemahan berturut-turut. Data terbaru menunjukkan harga batu bara ambruk di tengah ketatnya tarik-menarik sentimen ekonomi di kawasan Asia. Tren penurunan ini menyeret nilai jual komoditas tersebut ke titik terendah dalam dua bulan terakhir.

Melansir laporan CNBC Indonesia, pergerakan angka merujuk Refinitiv pada penutupan perdagangan Kamis (15/6/2026) menempatkan batu bara di posisi US$ 128,5 per ton. Koreksi harian sebesar 0,43% tersebut menggenapi akumulasi pelemahan sebesar 2,3% hanya dalam kurun waktu dua hari terakhir. Transaksi ini menjadi catatan nilai terendah sejak 22 April 2026.

Pemicu Harga Batu Bara Ambruk dan Lonjakan Impor Asia

Meski angka perdagangan global merosot, aktivitas pengapalan batu bara termal melalui jalur laut (seaborne thermal coal) di Asia sebenarnya mengalami lonjakan signifikan. Perusahaan analisis komoditas Kpler memperkirakan total pasokan impor Juni 2026 menembus 77,37 juta metrik ton. Volume ini menjadi yang tertinggi dalam enam bulan terakhir, melompat 22,3% dari capaian Juni tahun lalu sebesar 63,24 juta ton.

Dinamika ini didorong oleh lompatan harga Liquefied Natural Gas (LNG) di pasar spot internasional. Eskalasi militer menyusul serangan AS dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari memicu blokade Selat Hormuz oleh Teheran. Jalur tersebut menguasai 20% pasokan LNG dunia asal Qatar.

Akibatnya, harga LNG spot Asia Utara sempat terbang 143% menjadi US$ 25,30 per mmBtu pada Maret. Walau melandai ke level US$ 15,30 per mmBtu pada pertengahan Juni, harganya tetap 47% lebih mahal dibanding sebelum perang pecah. Kondisi ini memaksa utilitas listrik Jepang dan Korea Selatan beralih ke komoditas alternatif yang lebih murah, yakni batu bara.

Jepang mengerek impor batubara termal Juni sebesar 33% secara tahunan menjadi 7,82 juta ton. Korea Selatan melakukan hal serupa dengan mendatangkan 7,30 juta ton, melesat 41% dari periode Juni 2025. Harga batu bara kualitas tinggi Newcastle Australia ikut terkerek ke posisi US$ 134,09 per ton karena peralihan konsumsi energi massal ini.

Masalah Tambang China dan Strategi Kontra India

Pergerakan importir terbesar dunia, China, ikut memengaruhi pasar namun dengan alasan yang berbeda. Beijing mencatatkan impor jalur laut sebesar 27,65 juta ton pada Juni, meroket 48% dibanding tahun lalu. Langkah ekspansif ini murni dipicu oleh masalah internal sektor pertambangan mereka sendiri.

Produksi domestik China anjlok 1,7% menjadi 397,22 juta ton pada Mei akibat pengetatan inspeksi keselamatan pemerintah. Langkah tegas ini diambil usai insiden kecelakaan tambang parah yang merenggut nyawa 82 pekerja. Karena pasokan menyusut, harga batubara domestik di Qinhuangdao melambung ke 860 yuan per ton, tertinggi sejak Oktober 2024. Perusahaan listrik China akhirnya memilih memborong batu bara kalori rendah Indonesia dan kalori menengah Australia karena harganya jauh lebih kompetitif.

Kebijakan berlawanan justru ditunjukkan oleh India yang memilih mengerem pembelian di tengah situasi global saat ini. Hubungan dagang luar negeri India mencatatkan angka impor Juni sebesar 12,32 juta ton, turun dari posisi tahun lalu yang menyentuh 14,14 juta ton.

Pembangkit listrik di India sengaja menahan diri dari pasar luar negeri akibat volatilitas harga global. Guna memenuhi kebutuhan listrik nasional, mereka menguras cadangan stok domestik dan mempercepat transisi energi hijau. Strategi ini berhasil mendongkrak produksi listrik dari energi terbarukan India hingga 29,3% pada Mei, sekaligus mencetak rekor kontribusi tertinggi sebesar 17,9% terhadap total sistem kelistrikan nasional mereka.

Rekomendasi Untuk Anda

Follow WhatsApp Channel Sorotan Dunia untuk Notifikasi Berita Terbaru Setiap Hari
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *