IHSG Jatuh 2 Persen Lebih Akibat Tekanan Regulasi Baru dan Sentimen Global
IHSG jatuh 2 persen lebih atau tepatnya terkoreksi 163 poin (2,73%) hingga parkir di level 5.835 pada penutupan sesi I, Jumat (26/6/2026). Regulasi baru UU Nomor 4/2026 terkait revisi UU...
Ekonomi - IHSG jatuh 2 persen lebih atau tepatnya terkoreksi 163 poin (2,73%) hingga parkir di level 5.835 pada penutupan sesi I, Jumat (26/6/2026).
- Regulasi baru UU Nomor 4/2026 terkait revisi UU P2SK, khususnya Pasal 50A tentang Patriot Bond dan Merah Putih Bond, memicu kekhawatiran pencucian uang.
- Posisi daya saing Indonesia di IMD World Competitiveness Ranking 2026 melorot delapan peringkat ke posisi 48 dari 70 negara akibat masalah efisiensi.
- Tekanan eksternal datang dari Wall Street dan ketidakpastian bank sentral AS (The Fed) yang diproyeksikan tetap menaikkan suku bunga akhir tahun.
Sorotan Ekonomi – Aksi jual massal oleh para pemegang modal membuat IHSG ambles 2 persen lebih pada paruh pertama perdagangan akhir pekan. Indeks domestik runtuh 163 poin atau setara 2,73% yang menyeretnya jatuh ke zona merah di level 5.835. Kombinasi dari guncangan regulasi domestik dan proyeksi suku bunga global menjadi motor utama kejatuhan indeks secara drastis ini.
Melansir laporan Investor Daily, situasi pasar modal hari ini terbebani oleh sentimen ganda. Analisis dari Pilarmas Investindo Sekuritas menunjukkan bahwa investor sedang merespons negatif kondisi hukum dalam negeri dan pergerakan bursa global yang sedang tidak sehat.
Efek Regulasi Baru UU P2SK dan Daya Saing RI
Gejolak di dalam negeri bersumber dari kecemasan pelaku pasar terhadap kepastian hukum dan tata kelola keuangan. Kehadiran UU Nomor 4/2026 yang merevisi UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) memicu sentimen negatif. Fokus utama pasar tertuju pada Pasal 50A yang mengatur perlindungan hukum bagi pemilik Patriot Bond serta Merah Putih Bond.
Ketentuan baru ini dinilai berisiko membuka celah bagi praktik pencucian uang. Akibatnya, muncul mosi tidak percaya dari pemodal terhadap integritas sistem regulasi nasional.
Beban psikologis pasar bertambah berat setelah IMD World Competitiveness Ranking 2026 merilis data terbaru. Peringkat daya saing Indonesia terjun bebas dari posisi tahun lalu, kini terdampar di urutan ke-48 dari 70 negara. Kemerosotan delapan peringkat ini terjadi akibat penurunan kinerja efisiensi bisnis, efektivitas birokrasi pemerintah, dan kualitas infrastruktur nasional.
Tekanan Suku Bunga The Fed dan Pergerakan Saham
Kondisi pasar makin terjepit oleh sentimen eksternal seiring melemahnya bursa saham di Asia yang mengekor kejatuhan Wall Street. Investor global sedang menghitung ulang langkah mereka terhadap arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed.
Meskipun rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Mei sesuai proyeksi, pasar tidak sepenuhnya tenang. CME FedWatch Tool mencatat probabilitas The Fed menaikkan suku bunga pada September berada di angka 63%. Angka tersebut melonjak menjadi 80% untuk kepastian kenaikan suku bunga pada Desember mendatang.
Dua petinggi bank sentral AS memperkuat ketidakpastian ini. Presiden Federal Reserve New York John Williams menegaskan inflasi AS masih terlalu tinggi walau diprediksi melandai tahun ini. Pernyataan ini didukung oleh Presiden Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee yang menyatakan laju inflasi sektor jasa memang membaik, tetapi inflasi total secara keseluruhan belum aman dari target bank sentral.
Pada perdagangan sesi I, jajaran saham yang menjadi penggerak pasar dengan kenaikan tertinggi ditempati oleh RICY, ASPI, TRUS, MGNA, dan BHAT. Sebaliknya, posisi pelemahan terdalam dialami oleh saham CTBN, FUJI, CLPI, GPSO, dan UVCR.
Untuk menghadapi sisa perdagangan hari ini, Pilarmas Investindo Sekuritas mengeluarkan rekomendasi teknikal untuk pelaku pasar. Saham KLBF layak dicermati dengan pilihan aksi beli (buy) memanfaatkan area support di level 765 dan target batas perlawanan harga (resistance) di level 850.














