Komisi VI DPR Soroti Dampak BBM Nonsubsidi, Bakal Panggil Pertamina Usai BBM Naik
Baca 10 Detik • Komisi VI DPR RI berencana memanggil PT Pertamina (Persero) untuk meminta klarifikasi terkait dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi. • DPR mengkhawatirkan terjadinya migrasi massal konsumen dari...
Energi Sorotandunia.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi langsung memicu kekhawatiran sektor usaha. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Adisatrya Suryo Sulisto mengingatkan adanya konsekuensi besar pada biaya logistik nasional. Sektor distribusi yang membengkak berpotensi mengerek harga barang dan jasa di tingkat konsumen akhir.
DPR menaruh perhatian khusus pada daya tahan usaha kecil dan menengah (UKM) akibat kebijakan ini. Kenaikan biaya operasional diharapkan tidak menekan produktivitas usaha. Pihak legislatif mewanti-wanti agar kondisi ekonomi ini tidak berujung pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Target utamanya adalah memastikan laju inflasi tetap terkendali dengan baik.
DPR Jadwalkan Pemanggilan Pertamina
Komisi VI DPR RI mengambil langkah cepat dengan mengagendakan pemanggilan manajemen PT Pertamina (Persero). Pemanggilan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai kinerja perseroan serta kesiapan distribusi energi nasional. Berdasarkan data yang dikutip dari Parlementaria, rencana ini dikonfirmasi langsung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Fokus utama pemanggilan tersebut adalah mengupas mitigasi risiko lapangan. Parlemen menuntut kesiapan skenario dari pemerintah dan Pertamina agar pasokan energi tetap aman. Langkah pengawasan ketat sengaja diambil demi menjaga keseimbangan antara ketahanan fiskal negara dengan perlindungan nyata bagi masyarakat dan dunia usaha.
Ancaman Kelangkaan Pertalite
Titik krusial yang diantisipasi oleh DPR adalah potensi migrasi konsumen secara besar-besaran. Kenaikan harga BBM nonsubsidi diprediksi membuat pengguna Pertamax beralih ke Pertalite. Skema peralihan konsumsi ini dikhawatirkan menguras kuota BBM bersubsidi dalam waktu cepat.
“Kami juga akan meminta penjelasan dari Pertamina terkait dampaknya terhadap kinerja perseroan dan kemungkinan peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite. Jangan sampai nanti masyarakat beralih secara besar-besaran ke Pertalite, lalu muncul masalah baru berupa keterbatasan stok yang justru menyulitkan masyarakat,” kata Adisatrya.
Tekanan Global dan Impor Minyak
Adisatrya membeberkan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi kali ini tidak terlepas dari tekanan eksternal. Konflik geopolitik dunia yang berkepanjangan berdampak langsung pada ketidakpastian pasar energi global. Kondisi tersebut diperparah oleh nilai tukar rupiah yang sedang melemah terhadap dolar AS.
Beban keuangan pemerintah semakin berat karena Indonesia masih berstatus sebagai negara importir minyak. Kombinasi faktor global dan ketergantungan impor ini dinilai membuat opsi mempertahankan harga lama BBM nonsubsidi menjadi sangat sulit bagi kas negara.
Sumber: Parlementaria









