Amerika Serikat dilaporkan telah mengirimkan proposal berisi 15 poin kepada Iran sebagai upaya meredakan konflik yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah.
Langkah ini muncul setelah pernyataan keras dari pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang sebelumnya mengajukan sejumlah tuntutan tegas kepada Washington.
Dalam pernyataannya, Khamenei menegaskan tiga syarat utama: penarikan cepat pasukan Amerika Serikat dari Timur Tengah, pencabutan penuh sanksi dalam waktu 60 hari, serta kompensasi finansial jangka panjang atas kerugian ekonomi Iran. Pernyataan tersebut dilaporkan oleh Intellinews pada Senin.
Tidak berhenti di situ, Khamenei juga mengeluarkan ultimatum. Ia menyebut Iran siap meningkatkan eskalasi, baik di sektor ekonomi maupun militer, jika tuntutan tersebut diabaikan. Bahkan, Teheran disebut siap secara resmi mengadopsi kebijakan pengembangan senjata nuklir, mengakhiri posisi ambigu yang selama ini dipertahankan.
Ancaman lainnya yang turut disampaikan adalah kemungkinan penutupan total Selat Hormuz—jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dunia.
Di tengah situasi tersebut, Amerika Serikat merespons dengan mengajukan proposal diplomatik. Menurut laporan The New York Times pada Selasa (24/3/2026), yang mengutip dua pejabat terkait, proposal itu mencakup pembatasan ketat terhadap program nuklir Iran serta pembukaan kembali akses Selat Hormuz.
Menariknya, proposal tersebut tidak disampaikan secara langsung. Pakistan disebut berperan sebagai mediator, menawarkan diri untuk menjembatani komunikasi antara Washington dan Teheran.
Hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari kedua pihak terkait isi lengkap dari 15 poin tersebut maupun respons Iran terhadap tawaran tersebut. Namun, langkah ini menandai adanya upaya diplomasi di tengah meningkatnya ketegangan yang berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi global.





