Sebut Menhan Filipina ‘Badut Politik’, China Kecam Pernyataan Terkait Ancaman Teritorial
Baca 10 detik Baca 10 Detik Kementerian Luar Negeri China melabeli pihak yang mengganggu hubungan bilateral sebagai “badut” dan menuduh Menhan Filipina tidak tahu terima kasih atas bantuan ekonomi Beijing....
Internasional - Kementerian Luar Negeri China melabeli pihak yang mengganggu hubungan bilateral sebagai “badut” dan menuduh Menhan Filipina tidak tahu terima kasih atas bantuan ekonomi Beijing.
- Menhan Filipina Gilberto Teodoro Jr. menegaskan negaranya berada di bawah ancaman serius dari China dan menyebut tawaran bantuan bahan bakar serta pupuk dari Beijing hanya tipu daya.
- Sikap keras Menhan Filipina bertolak belakang dengan Presiden Ferdinand Marcos Jr. dan Menteri Pertanian Francisco Tiu Laurel Jnr yang sebelumnya mengapresiasi pasokan pupuk dari China.
Beijing Semprot Menhan Filipina
Sorotandunia.com, Beijing – Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, melayangkan kecaman keras terhadap Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Teodoro Jr. Langkah ini merespons pernyataan Teodoro yang menyebut Manila berada di bawah ancaman teritorial dan politik yang serius dari Beijing. Mengutip laporan SCMP, China mendesak Filipina mengambil tindakan nyata untuk menghentikan aksi “beberapa badut” yang dinilai kerap melakukan sandiwara politik demi keuntungan pribadi dan merusak kepercayaan bilateral.
Bantuan Ekonomi Disebut Tipu Daya
Ketegangan ini memuncak setelah Teodoro berbicara kepada media di sela-sela Dialog Shangri-La di Singapura. Dia mengabaikan komitmen bantuan bahan bakar dan pupuk yang ditawarkan China saat Filipina dihantam krisis akibat dampak perang di Timur Tengah. Teodoro secara terbuka menyatakan bahwa pemanis bantuan dari Beijing sama sekali tidak berguna dan merupakan sebuah tipu daya.
Mao Ning membalas tudingan tersebut dengan menyebut Teodoro telah mengabaikan kesejahteraan rakyatnya sendiri. Beijing mempertanyakan keberlanjutan pasokan bantuan ke depan jika pejabat Filipina terus dibiarkan melontarkan pernyataan yang menyerang China tanpa sanksi.
Kontradiksi di Internal Manila
Sikap konfrontatif Menhan Filipina ini memperlihatkan adanya perbedaan arah di internal pemerintahan Manila. Pada Maret lalu, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. justru mengakui bahwa China sangat membantu dalam menjaga pasokan pupuk bagi petani mereka. Marcos Jr. saat itu menegaskan komitmennya untuk memisahkan sengketa wilayah dari urusan perdagangan, bahkan membuka peluang kerja sama pengelolaan gas alam di Laut China Selatan.
Hal senada sempat disampaikan Menteri Pertanian Filipina, Francisco Tiu Laurel Jnr. Usai bertemu utusan utama China, Jing Quan, Laurel mengonfirmasi bahwa Beijing menjamin kelancaran ekspor pupuk ke Filipina dan tidak akan membekukannya meski situasi global sedang bergejolak.
Ketegangan Maritim yang Meluas
Konfrontasi verbal ini terjadi di tengah dinamika geopolitik yang kian panas di kawasan perairan sengketa. Filipina baru saja menyepakati negosiasi batas maritim dengan Jepang yang langsung memicu reaksi negatif dari Beijing.
Selain itu, Teodoro menuduh China menjadi penghalang utama dalam penyelesaian kode etik (Code of Conduct) di Laut China Selatan. Di sisi lain, Presiden Marcos Jr. terus memperkuat barisan dengan negara pengklaim lainnya. Dalam pertemuan dengan pemimpin tertinggi Vietnam To Lam, Manila dan Hanoi menegaskan bahwa stabilitas serta kebebasan navigasi di Laut China Selatan merupakan harga mati yang tidak bisa dinegosiasikan.















