AS Rampungkan Uji F-35C Pengangkut LRASM, Perkuat Serangan Maritim Jarak Jauh

F-35C Dirgantara
Integrasi AGM-158C LRASM pada jet siluman F-35C perkuat opsi serangan maritim AS di wilayah konflik tanpa ketergantungan penuh pada GPS. Foto: Lockheedmartin
-AA+
comment 2 Created with Sketch Beta. 0 Komentar
Baca 10 detik
Baca 10 Detik
  • Angkatan Laut AS dan Lockheed Martin menyelesaikan fase pertama pengujian integrasi Rudal Anti-Kapal Jarak Jauh AGM-158C (LRASM) pada pesawat tempur siluman berbasis kapal induk, F-35C Lightning II.
  • Pemasangan rudal terpaksa menggunakan pylon eksternal karena ukuran AGM-158C melebihi kapasitas ruang senjata internal F-35C, sehingga mengorbankan sebagian fitur siluman demi keunggulan daya pukul dan jangkauan.
  • Rudal LRASM dirancang mandiri dengan sensor dan algoritma internal yang mampu mencari serta mengklasifikasikan target bergerak secara otonom, mengurangi ketergantungan pada GPS dan jaringan komunikasi luar di area peperangan elektronik.
  • Program pengadaan LRASM kini telah bergeser dari kebutuhan mendesak skala kecil Armada Pasifik menjadi alokasi inventaris masif multi-pesawat dengan proyeksi total 1.589 unit senilai $7,8098 miliar.

Sinergi Baru Sayap Udara Kapal Induk

Sorotandunia.com – Kombinasi kekuatan kedirgantaraan maritim Amerika Serikat memasuki babak baru lewat integrasi persenjataan presisi tinggi. Angkatan Laut AS bersama Lockheed Martin secara resmi menuntaskan fase pertama kampanye uji penerbangan untuk mengintegrasikan Rudal Anti-Kapal Jarak Jauh AGM-158C, yang dikenal sebagai Long Range Anti-Ship Missile (LRASM), ke dalam jet tempur siluman berbasis kapal induk F-35C Lightning II.

Melansir laporan Army Recognition, kepastian keberhasilan fase awal ini diumumkan pihak Lockheed Martin pada 10 Juni 2026. Rampungnya pengujian ini membawa sayap udara kapal induk militer AS selangkah lebih dekat dalam mengerahkan kemampuan ofensif maritim jarak jauh yang diproyeksikan mampu menembus sistem pertahanan udara terpadu milik musuh.

Rangkaian uji coba yang telah diselesaikan berfungsi mengonfirmasi keamanan struktural F-35C saat mengoperasikan LRASM di bawah berbagai kondisi penerbangan operasional. Fase pertama ini menitikberatkan pada pengumpulan data praktis, mulai dari pengukuran getaran, beban struktural, kualitas terbang dengan muatan eksternal yang berat, hingga konformasi antarmuka mekanis dan listrik. Jejak rekam pengujian ini sejatinya telah dimulai sejak penerbangan perdana pada 9 dan 10 September 2024.

Saat itu, pesawat uji F-35C terbang membawa dua rudal AGM-158 inert di stasiun sayap bagian dalam, didampingi dua rudal udara-ke-udara AIM-9X inert di ujung sayap. Dokumentasi uji coba berikutnya mengidentifikasi penerbangan seri CF-3 811 yang berlangsung pada 6 November 2025 di Patuxent River, menandakan ekspansi jangkauan uji coba yang terus diperluas hingga mencapai titik validasi saat ini. Data-data yang terkumpul kini meletakkan dasar kuat bagi Angkatan Laut AS untuk melangkah ke tahap pengujian berikutnya, yakni uji pemisahan rudal (separation tests) dan pengujian penembakan senjata secara penuh.

Kompromi Fitur Siluman Demi Daya Gempur

Dimensi fisik AGM-158C LRASM memicu perubahan signifikan pada konfigurasi radar pesawat. Karena ukuran rudal jelajah subsonik ini terlalu besar untuk ditampung dalam ruang senjata (weapon bay) internal F-35C, mekanis pengangkutan harus beralih menggunakan pylon eksternal pada sayap. Langkah ini secara langsung mengubah profil geometris F-35C dan meningkatkan radar cross-section yang membuat pesawat lebih mudah terdeteksi.

Kendati demikian, kalkulasi militer menganggap kompromi ini relevan secara operasional. Jet F-35C tidak akan menggunakan konfigurasi eksternal ini pada gelombang penetrasi paling awal ke zona pertahanan udara musuh yang ketat. Sebaliknya, persenjataan luar ini baru dikerahkan saat fokus operasi bergeser pada kebutuhan massa rudal, perluasan jangkauan tembak, serta efek destruktif anti-permukaan secara masif.

Karakteristik teknis F-35C menjadi fondasi utama mengapa varian kapal induk ini dipilih sebagai platform peluncur LRASM. Pesawat ini dibekali bentang sayap sepanjang 43 kaki, luas sayap mencapai 668 kaki persegi, serta kapasitas bahan bakar internal mendekati angka 20.000 pon. Performa di udara didukung kecepatan maksimum Mach 1,6 dengan radius tempur menggunakan bahan bakar internal melampaui 600 mil laut, ditambah total kapasitas angkut senjata internal dan eksternal di atas 18.000 pon.

Keberadaan muatan eksternal seperti LRASM dipastikan menambah hambatan aerodinamis (drag) serta membatasi jangkauan terbang maksimum pesawat. Namun, keunggulan sejati F-35C dibanding platform pendahulunya seperti F/A-18E/F Super Hornet terletak pada kecanggihan sensor dan arsitektur sistem misinya. F-35C mampu mendeteksi, mengklasifikasikan, sekaligus membagikan data target secara langsung di dalam rantai serangan angkatan laut yang terdistribusi, mematangkan akurasi penargetan bahkan sebelum rudal dilepaskan dari pylon.

Otonomi Senjata di Area Peperangan Elektronik

Spesifikasi Fisik & Kapasitas AGM-158C LRASM:

Sebagai varian anti-kapal yang dikembangkan dari basis rudal jelajah darat JASSM-ER, AGM-158C LRASM dibekali sistem misi khusus untuk menyasar target maritim bergerak. Jangkauan operasional riil rudal ini diklasifikasikan dengan ketat oleh Pentagon. Jauh lebih penting dari sekadar jarak jangkau, Angkatan Laut AS mendesain arsitektur pemandu LRASM agar tidak bergantung pada dukungan konstan pesawat Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (ISR), tautan jaringan eksternal, maupun sinyal navigasi satelit GPS. Karakteristik mandiri ini menjadi krusial untuk menghadapi taktik pembendungan musuh di area peperangan elektronik (electronic warfare).

Ketika rudal anti-kapal konvensional rawan mengalami kegagalan akibat gangguan pengacauan sinyal (jamming), umpan, atau hilangnya kontak satelit, LRASM bekerja secara otonom. Setelah diluncurkan dari luar jangkauan payung pertahanan udara kapal musuh, rudal akan bernavigasi menuju area pencarian yang telah ditentukan.

Sensor dan algoritma internal yang tertanam pada badan rudal kemudian mengambil alih tugas memindai, mengklasifikasikan, hingga mengeksekusi kapal perang yang menjadi sasaran utama. Pola operasional otonom ini memotong kebutuhan akan dukungan panduan berkelanjutan dari pesawat peluncur selama fase terminal menuju target. Doktrin ini tidak menghapus rantai penghancuran (kill chain) konvensional milik Angkatan Laut AS yang tetap memerlukan prosedur deteksi awal, identifikasi, serta perencanaan misi, melainkan meminimalisasi kerentanan rudal dari serangan elektronik dan manipulasi formasi armada lawan.

Anggaran Masif dan Proyeksi Modernisasi

Evolusi program LRASM merefleksikan urgensi pemenuhan kebutuhan persenjataan di kawasan Pasifik. Diinisiasi pada tahun 2008 untuk merespons kebutuhan operasional mendesak Armada Pasifik AS, program bertajuk Offensive Anti-Surface Warfare Increment 1 ini dipercepat hingga meraih kemampuan operasional awal (Initial Operational Capability) pada pembom B-1B Angkatan Udara pada Desember 2018, disusul jet tempur F/A-18E/F Angkatan Laut pada November 2019.

Berdasarkan laporan Modernized Selected Acquisition Report tahun 2023, estimasi anggaran pada tahun anggaran (PB) 2025 memproyeksikan pengadaan total sebanyak 1.589 unit rudal, terbagi untuk alokasi Angkatan Laut sebanyak 900 unit dan Angkatan Udara sebanyak 689 unit. Total nilai investasi pengadaan ini diestimasikan menelan biaya sebesar $7,8098 miliar, dengan rata-rata biaya per unit rudal menyentuh $3,603 juta. Skala pengadaan ini menegaskan bahwa LRASM bukan lagi proyek inventaris taktis jangka pendek berkapasitas kecil, melainkan tulang punggung ofensif maritim lintas matra di tubuh militer AS.

Paralel dengan langkah integrasi pada armada F-35C, peningkatan kapabilitas rudal itu sendiri terus berjalan secara bertahap. Seluruh stok persenjataan AGM-158C saat ini telah ditingkatkan ke standar konfigurasi LRASM 1.1 yang mulai dioperasikan sejak November 2023. Guna menguji keandalan versi pembaruan ini, Angkatan Laut AS pada Maret 2025 menggelar uji coba operasional dengan meluncurkan tujuh unit rudal sekaligus dari armada F/A-18E/F Super Hornet untuk menghancurkan target maritim bergerak.

Evaluasi publik mengenai kedahsyatan, daya hancur, serta ketahanan siber dari uji coba tersebut masih tertutup karena laporan evaluasi awal gabungan berstatus rahasia, sementara data uji penembakan langsung baru akan dibuka pasca-pengujian Tahun Anggaran (FY) 2026. Lintasan modernisasi berikutnya diarahkan pada pengembangan varian AGM-158C-3. Peningkatan pada varian C-3 difokuskan pada penambahan jarak tempuh yang lebih jauh, integrasi komunikasi di luar garis pandang (beyond line-of-sight), peningkatan daya tahan rudal, serta pembaruan pustaka data target secara berkala, dengan target operasional awal yang dijadwalkan matang pada kuartal keempat FY26.

Kehadiran F-35C sebagai pengusung rudal LRASM tidak diposisikan untuk menggeser peran armada F/A-18E/F, melainkan memperluas geometri serangan anti-permukaan melalui kehadiran platform sekunder dengan karakter penginderaan dan ketahanan berbeda. Sebelum kombinasi ini mengantongi izin operasional penuh di dalam kekuatan armada (fleet release), Angkatan Laut AS masih harus merampungkan serangkaian pembatasan teknis logistik di lapangan. Hambatan aerodinamis akibat pylon luar, kalkulasi daya angkut kembali pesawat ke dek jika rudal tidak diluncurkan, serta manajemen penanganan fisik senjata di atas dek kapal induk menjadi variabel-variabel kritis yang berdampak langsung pada kecepatan produksi sorti penerbangan kelompok serang.

Komandan gugus tugas kapal induk harus menyeimbangkan kalkulasi manajemen dek ini di tengah kompleksitas misi operasi yang mencakup pertahanan udara, pengisian bahan bakar, intelijen maritim, hingga serangan elektronik. Persetujuan penggunaan armada di masa depan diproyeksikan memberi kemampuan mutakhir bagi kelompok serang kapal induk AS untuk mengeliminasi kapal penjelajah, kapal perusak, kapal serbu amfibi, hingga kapal komando lawan yang beroperasi di dalam zona gangguan elektronik yang pekat.

Baca Artikel Lainnya

Follow WhatsApp Channel Sorotan Dunia untuk Notifikasi Berita Terbaru Setiap Hari
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *