Militer Israel Gempur Lebanon Selatan, Lima Warga Tewas Termasuk Pejabat Lokal
Baca 10 detik Baca 10 Detik Operasi militer Israel di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk Walikota Ar-Rihan, Ali Badie, dan melukai seorang tentara Lebanon. Militer Israel mengeluarkan perintah...
Internasional - Operasi militer Israel di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk Walikota Ar-Rihan, Ali Badie, dan melukai seorang tentara Lebanon.
- Militer Israel mengeluarkan perintah pengosongan paksa bagi warga di 24 kota dan desa untuk segera pindah ke utara Sungai Zahrani.
- Hizbullah merespons dengan meluncurkan rentetan drone Ababil dan rudal udara-ke-udara, serta menjebak pasukan infanteri Israel di wilayah perbatasan.
Korban Jiwa di Lebanon Selatan
Sorotandunia.com – Agresi militer Israel di wilayah Lebanon selatan merenggut sedikitnya lima korban jiwa. Berdasarkan data yang dikutip dari Aljazeera, gempuran artileri dan serangan udara terus berjalan di tengah klaim kesepakatan gencatan senjata bentukan Amerika Serikat.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) mengonfirmasi satu warga tewas akibat bom udara di kota Maarakeh, distrik Tyre. Di distrik Jezzine, Walikota Ar-Rihan bernama Ali Badie gugur akibat serangan serupa. Tiga korban jiwa lainnya jatuh di wilayah Deir al-Zahrani dan Kafr Reman, distrik Nabatieh. Di samping warga sipil, militer Lebanon mengumumkan seorang prajuritnya menderita luka berat setelah dua kali menjadi sasaran tembak tentara Israel di jalur Kfar Reman–Nabatieh.
Perintah Pengungsian Paksa
Bersamaan dengan serangan udara, tentara Israel menyebarkan ancaman tertulis yang memaksa penduduk di 24 kota dan desa wilayah selatan untuk angkat kaki. Mereka diperintahkan bergerak ke arah utara melintasi Sungai Zahrani. Wilayah yang masuk daftar pengosongan ini meliputi kawasan padat seperti Nabatieh al-Tahta, Habboush, Kharchouba, Arab Salim, hingga wilayah Jezzine seperti Sajed dan Al-Lawiza.
Koresponden Aljazeera di Beirut, Heidi Pett, melaporkan situasi lapangan menunjukkan eskalasi besar, bukan penghentian perang. Penghancuran rumah warga dan fasilitas publik di Bint Jbeil, Bir Ayshiyeh, serta Qana mempertegas bahwa Israel mengabaikan pembicaraan damai. Kondisi ini memicu kekhawatiran publik akan terulangnya tragedi berdarah April lalu, saat penolakan gencatan senjata oleh Israel berujung pada tewasnya 350 orang dalam sehari.
Perlawanan Sengit Hizbullah
Merespons tekanan tersebut, Hizbullah melancarkan operasi pertahanan udara menggunakan rudal khusus untuk mencegat drone Hermes 450 Israel di langit Iqlim al-Tuffah. Kelompok perlawanan ini menyasar barisan kendaraan tempur Israel di Jdeidet Mays al-Jabal dan menggempur pusat komando musuh di Yahmor al-Shaqif menggunakan drone intai menukik.
Pertempuran darat jarak dekat juga pecah di sekitar Bukit Hamams dan kota Khiam. Hizbullah mengerahkan armada drone Ababil untuk menghantam titik berkumpulnya tentara Israel. Di dekat wilayah Kfar Tebnit, unit infanteri militer Israel dipancing masuk ke area jebakan bahan peledak. Rentetan ledakan dan tembakan artileri balasan memaksa pasukan darat Israel mundur dari posisi tersebut. Di lini pertahanan internal mereka, Israel mengklaim telah melumpuhkan tujuh anggota Hizbullah serta menghancurkan 70 situs militer dalam 24 jam.
Diplomasi yang Terancam Gagal
Situasi mematikan di lapangan terjadi tepat saat munculnya rumor penandatanganan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Otoritas Teheran menyebutkan kesepakatan awal mencakup penghentian perang di semua lini, termasuk wilayah Lebanon. Faktanya, Israel tidak terlibat dalam meja negosiasi AS-Iran tersebut dan secara terbuka menolak menarik pasukannya dari tanah Lebanon.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat total korban jiwa sejak Maret telah menembus 3.756 orang tewas, dan 11.632 lainnya luka-luka. Krisis berkepanjangan ini membuat Presiden Lebanon, Joseph Aoun, angkat bicara. Ia menegaskan negaranya berada di persimpangan krusial untuk memilih berdiri sebagai negara berdaulat yang memegang kendali penuh atas persenjataan, atau selamanya menjadi sandera kepentingan milisi bersenjata serta konflik regional.














