Korea Utara Tegaskan Status Negara Nuklir Final dan Tak Bisa Ditawar
Baca 10 detik Baca 10 Detik Korea Utara menyatakan statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir bersifat permanen dan tidak dapat diganggu gugat. Pernyataan keras Pyongyang keluar sebagai respons langsung atas...
Internasional - Korea Utara menyatakan statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir bersifat permanen dan tidak dapat diganggu gugat.
- Pernyataan keras Pyongyang keluar sebagai respons langsung atas kesepakatan denuklirisasi total antara AS, Jepang, dan Korea Selatan di Tokyo.
- Pyongyang justru menuding penjualan senjata AS ke Seoul dan Tokyo sebagai alasan utama mereka memperkuat benteng nuklir demi stabilitas kawasan.
Penegasan Status Nuklir Korea Utara
Sorotandunia.com – Korea Utara secara resmi menyatakan posisi mereka sebagai negara pemilik senjata nuklir tidak dapat diganggu gugat. Pintu negosiasi untuk denuklirisasi kini telah tertutup rapat. Melansir laporan CNA, Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) merilis pernyataan juru bicara pemerintah yang menyebut status nuklir tersebut merupakan kunci utama dalam menjaga stabilitas dan perdamaian regional.
Sikap tegas ini menjadi jawaban langsung atas pertemuan trilateral antara Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan di Tokyo. Kementerian Luar Negeri Seoul melaporkan bahwa ketiga sekutu tersebut baru saja menyepakati komitmen bersama untuk mewujudkan denuklirisasi total di Semenanjung Korea. Pyongyang menganggap seruan tersebut sebagai retorika kosong yang tidak akan mengubah arah kebijakan militer mereka. Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin tertinggi Kim Jong Un, juga sempat menegaskan bahwa kebijakan nuklir negaranya merupakan garis pembatas yang mustahil ditarik mundur.
Justifikasi Penguatan Senjata
Pemerintah Korea Utara menggunakan aktivitas militer Amerika Serikat di Asia Timur sebagai pembenaran atas agresivitas program nuklir mereka. Penjualan sistem persenjataan canggih oleh Washington ke Seoul dan Tokyo dinilai sebagai ancaman nyata. Kondisi ini membuat Pyongyang merasa wajib memperkuat sistem pertahanan nuklir sebagai jaminan keamanan mandiri.
Arah politik luar negeri Korea Utara terus mengeras setelah kegagalan diplomasi masa lalu. Program senjata nuklir mereka melesat cepat pasca-runtuhnya pembicaraan dengan Washington pada 2019, saat KTT antara Kim Jong Un dan Donald Trump di Hanoi berakhir tanpa kesepakatan. Juru bicara KCNA menyatakan bahwa konsep denuklirisasi sudah usang dan telah hilang ditelan tren zaman.
Dukungan Geopolitik Tanpa Syarat
Posisi Pyongyang di panggung internasional terasa mendapat angin segar melalui kedekatan dengan sekutu tradisionalnya. Kim Jong Un baru-baru ini menerima kunjungan Presiden China Xi Jinping di Pyongyang. Pertemuan tingkat tinggi ini terjadi tepat setelah pemimpin China tersebut menyelesaikan rangkaian KTT dengan Donald Trump dan Vladimir Putin di Beijing.
Data dari laporan media resmi kedua negara menunjukkan sinyal diplomatik yang kuat. Sepanjang pertemuan bilateral antara Kim Jong Un dan Xi Jinping, kedua belah pihak sama sekali tidak menyinggung atau memasukkan isu denuklirisasi ke dalam agenda pembahasan mereka.















