Di sela-sela jalan di wilayah RW 07 Kelurahan Manggarai, Jakarta Selatan, pemukiman yang berdekatan dengan jalur kereta api, dengan deru bising kereta api yang melintas seolah kalah dengan suara es batu yang dihancurkan di dalam termos-termos besar. Di sini, di sebuah pemukiman yang kini dijuluki “Kampung Es Teh Gentong”, sebuah tradisi sederhana berhasil bertahan di tengah gempuran tren minuman kekinian yang serba modern.

Bukan di dalam gelas estetik atau botol bermerek, kesegaran ini hadir dalam bungkusan plastik bening berukuran setengah kilogram. Harganya pun seolah melawan waktu: hanya Rp 2.000 per porsi.

Keberadaan es teh gentong ini telah mengakar kuat dalam keseharian warga. Yati (53), salah satu warga setempat, memberikan kesaksian bahwa minuman tradisional ini sudah eksis sejak ia masih kecil. Dahulu, para pedagang identik dengan penggunaan teh bubuk dan gula batu asli dari Cirebon. Meski zaman berganti, es teh plastik tetap menjadi primadona yang tak tergantikan bagi sebagian besar warga Manggarai.

Dalam ingatannya, cita rasa khas es teh Manggarai dahulu dibangun dari penggunaan teh bubuk jenis tertentu dan pemanis dari gula batu asli asal Cirebon. Meski kini sebagian besar beralih ke gula pasir, es teh ini tetap menjadi kebutuhan harian warga, dari anak-anak hingga lansia.

Kekuatan ekonomi di kampung ini tumbuh secara organik. Para pedagang seperti Aas (51), yang telah berjualan selama 11 tahun, menunjukkan ketangguhan usaha mikro ini. Uniknya, es teh gentong ini sering kali menjadi “pendamping” bagi dagangan lainnya.

Sesuai dengan dinamika di lapangan, para penjual tidak hanya mengandalkan teh saja. Mereka juga menjajakan pendamping setia seperti mi instan, seblak, aneka gorengan frozen food, hingga kerupuk mi. Kombinasi makanan gurih dan es teh manis inilah yang membuat lapak-lapak di gang sempit ini selalu ramai.

Yuli Yanti (34), pedagang lainnya, mengaku konsistensi penggunaan gula asli dan teh yang dimasak sendiri menjadi kunci utama. Dengan rata-rata penjualan 50 plastik per hari, ia mampu meraup keuntungan bersih sekitar Rp 40.000, sebuah angka yang sangat berarti untuk membantu dapur keluarga tetap mengepul.

Di balik kesegarannya, dr. Liliana, Sp.GK, seorang Dokter Spesialis Gizi Klinik, memberikan catatan penting. Beliau mengingatkan bahwa konsumsi teh manis yang berlebihan memiliki risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak terkait kesehatan gigi, serta lansia yang memiliki riwayat penyakit degeneratif seperti diabetes dan jantung.


Disclaimer
This article was automatically rewritten by AI based on a report from megapolitan.kompas.com. The content has been paraphrased without altering the original facts, context, or meaning.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *