Perundingan AS Iran di Swiss Dimulai di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Perundingan langsung Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan mulai di Swiss pada Minggu (21/06) demi membahas isu nuklir dan penyelesaian final konflik dalam 60 hari ke depan. Ketegangan memuncak akibat klaim...
Internasional - Perundingan langsung Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan mulai di Swiss pada Minggu (21/06) demi membahas isu nuklir dan penyelesaian final konflik dalam 60 hari ke depan.
- Ketegangan memuncak akibat klaim militer Iran yang menutup Selat Hormuz sebagai respons serangan udara maut Israel di Nabatieh, Lebanon selatan, yang menewaskan 47 warga sipil.
- Eskalasi bersenjata memicu Teheran menuduh Donald Trump gagal meredam Benjamin Netanyahu, sementara Donald Trump menuduh PM Israel tersebut membantai warga sipil tanpa akal sehat.
- Tim SAR di Nabatieh mendeteksi sedikitnya 12 kali serangan udara Israel pasca-deklarasi gencatan senjata, memicu skeptisisme publik atas kepatuhan militer di lapangan.
Sorotandunia.com – Pertemuan diplomasi tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan bergulir di Swiss pada Minggu (21/06). Agenda krusial ini dilaksanakan guna menindaklanjuti kesepakatan awal yang diteken presiden kedua negara dalam upaya menyudahi perang dengan target kesepakatan final dalam tenggat 60 hari. Delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi terpantau mendarat lebih awal di lokasi.
Langkah perdamaian ini langsung dihadapkan pada situasi genting setelah militer Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz. Pemutusan jalur laut strategis tersebut dipicu oleh agresi udara mematikan Israel di Lebanon selatan yang dinilai melanggar komitmen Washington-Teheran. Juru bicara militer AS membantah klaim sepihak tersebut dan menyatakan lalu lintas kapal tetap berjalan normal. Juru bicara kementerian luar negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan pihaknya akan menuntut komitmen penuh dari pihak Amerika Serikat.
Wakil Presiden AS JD Vance bertolak dari Washington DC menuju Swiss pada Sabtu (20/06) malam dengan membawa misi kemajuan pembicaraan nuklir serta gencatan senjata Lebanon. Berdasarkan data yang dikutip dari BBC Indonesia, perdana menteri Pakistan Shehbaz Sharif dipastikan ikut hadir memperkuat posisi negaranya yang bertindak sebagai mediator konflik.
Pelanggaran Komitmen di Lapangan
Kondisi siber dan riil di medan tempur menunjukkan peta konflik yang buram. Pengumuman gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah sejatinya sempat dinyatakan berlaku pada Jumat (19/06) jam 16.00 waktu setempat setelah serangan udara masif Israel merenggut 47 nyawa warga sipil. Korban jiwa di wilayah Nabatieh menyebar di Harouf sebanyak sembilan orang, Haboush tujuh orang, dan al-Duweir enam orang.
Faktanya, Tim SAR di kota Nabatieh mengonfirmasi jet tempur Israel meluncurkan sedikitnya 12 kali serangan bom susulan setelah waktu gencatan senjata dimulai. Ketidakmampuan meredam pertempuran ini memicu tudingan dari Teheran bahwa Donald Trump kehilangan kendali atas perdamaian yang ia gagas bersama Iran. Trump sendiri melayangkan kritik keras terhadap PM Israel Benjamin Netanyahu dengan menuduhnya membantai warga sipil tanpa akal sehat saat memburu milisi.
Respons internal kabinet Israel justru kian memanaskan konfrontasi. Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan ekstrem, Itamar Ben Gvir, menuntut pembalasan keras atas kematian empat tentara Israel oleh milisi Hizbullah. Ben Gvir menyatakan Lebanon harus dibakar demi air mata ibu Israel. Menlu Iran Abbas Araghchi langsung membalas pernyataan itu dengan menuduh Israel menginginkan perang abadi dan menegaskan AS memegang tanggung jawab penuh atas segala pelanggaran komitmen.
Dampak Perang dan Skeptisisme Pengungsi
Eskalasi pertempuran sebelum gencatan senjata sempat memuncak ketika pasukan Hizbullah menjebak pergerakan infantri Israel di Lebanon selatan. Kelompok bersenjata tersebut menghancurkan tiga tank militer dengan rudal kendali serta berondongan roket artileri yang menewaskan empat serdadu Israel, termasuk seorang komandan batalion. Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem mendeklarasikan bahwa rencana musuh melenyapkan kelompoknya telah gagal total dan mendesak militer Israel mundur dari wilayah perbatasan.
Di sisi lain, juru bicara militer Israel Effie Defrin bersikeras pasukannya tetap bergerak aktif melenyapkan setiap ancaman yang datang seketika demi mengamankan warga sipil mereka. Realitas saling serang ini memicu kejenuhan dan skeptisisme mendalam dari para pengungsi Lebanon. Warga meragukan iktikad Israel untuk mematuhi kesepakatan tertulis karena rekam jejak pelanggaran perjanjian yang sering terulang.
Konflik berkepanjangan ini telah menelan korban jiwa yang sangat besar. Data Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 3.900 orang tewas dan 11.600 lainnya luka-luka sejak pertempuran meletus. Agresi militer dan pendudukan Israel pada sekitar 5% wilayah selatan telah menghancurkan puluhan permukiman warga hingga rata dengan tanah, menyebabkan satu juta orang telantar di barak pengungsian. Departemen Luar Negeri AS merencanakan dialog langsung susulan antara perwakilan Lebanon dan Israel di Washington pekan depan, dengan syarat mutlak dari Presiden Lebanon Joseph Aoun berupa penghentian total seluruh serangan udara Israel.














