Intisari Laporan
  • Gangguan teknis pusat data sistem MyIMMs yang berusia 30 tahun melumpuhkan 114 pos pemeriksaan imigrasi Malaysia, memaksa petugas memproses data puluhan ribu pelancong secara manual.
  • Perbatasan Johor-Singapura mengalami dampak terburuk saat jam sibuk kerja, mendorong kementerian terkait memperketat mitigasi vendor menjelang peluncuran platform digital NIISe pada 2028.

Sorotandunia.com, Malaysia — Pemadaman pusat data Sistem Imigrasi Malaysia (MyIMMs) memicu kelumpuhan total pada 114 pos pemeriksaan di seluruh negeri pada Kamis (28/5) pagi. Sebanyak 56 titik masuk jalur laut, 30 jalur darat, dan 28 bandara terpaksa beralih ke pencatatan manual akibat matinya sistem gerbang otomatis dan pemindai wajah. Insiden ini menahan pergerakan puluhan ribu pelancong dan komuter antaranegara selama berjam-jam.

Titik perbatasan darat Johor-Singapura menjadi lokasi paling terdampak. Kelumpuhan bertepatan dengan jam sibuk keberangkatan warga Malaysia yang bekerja di negara tetangga tersebut. Seluruh personel lapangan dikerahkan ke loket manual pada lajur bus, sepeda motor, dan mobil untuk mengurai penumpukan massa. Otoritas setempat juga menurunkan aparat keamanan tambahan guna menjaga ketertiban setelah penumpukan komuter yang terlambat bekerja memicu kemacetan parah dan viral di media sosial.

Direktur Jenderal Departemen Imigrasi Malaysia, Zakaria Shaaban, memastikan gangguan murni dipicu masalah teknis, bukan akibat peretasan. Zakaria mencatat pemadaman berlangsung sejak pukul 05.00 hingga sistem kembali pulih pada pukul 08.45 waktu setempat. Versi berbeda datang dari laporan pelancong kepada media The Star, yang menyebut gangguan terasa lebih panjang mulai pukul 04.30 hingga 09.30 pagi.

Insiden Kamis pagi merupakan kelumpuhan sistem imigrasi berskala besar kedua di Malaysia dalam rentang waktu satu bulan. Kejadian serupa pada 23 April 2026 lalu sempat menelantarkan ribuan pelancong selama dua jam. Zakaria menegaskan keterbatasan infrastruktur saat ini menjadi akar masalah, mengingat sistem MyIMMs telah beroperasi selama 30 tahun.

Pemerintah menargetkan MyIMMs baru akan digantikan sepenuhnya oleh Sistem Imigrasi Terpadu Nasional (NIISe) pada 2028 untuk mengintegrasikan verifikasi paspor, visa, dan data pelancong secara digital. “Masalah pasti akan terjadi. Kami akan bertahan hingga sistem NIISe siap,” kata Zakaria menanggapi potensi gangguan lanjutan.

Merespons rentetan kegagalan sistem ini, Menteri Dalam Negeri Saifuddin Nasution Ismail telah memerintahkan vendor NIISe menyusun rencana mitigasi khusus. Arahan ini dikeluarkan untuk menjamin tidak ada gangguan operasional saat Sistem Transit Cepat (RTS) Johor Bahru-Singapura resmi beroperasi tahun depan.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *