Bencana mematikan melanda sektor pertambangan China setelah ledakan gas mengguncang tambang batu bara Liushenyu di Kabupaten Qinyuan, Kota Changzhi, Provinsi Shanxi. Sebanyak 90 pekerja tambang dipastikan tewas dalam insiden yang terjadi pada Jumat malam, sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Peristiwa tragis ini tercatat sebagai salah satu kecelakaan tambang paling fatal di negara tersebut dalam satu dekade terakhir.
Saat ledakan hebat itu terjadi, terdapat 247 pekerja yang sedang berada di bawah tanah. Sebanyak 201 penambang berhasil dievakuasi dengan selamat ke permukaan hingga Sabtu pagi pukul 06.00 waktu setempat. Tim penyelamat yang diterjunkan ke lokasi masih melakukan pencarian intensif untuk menemukan sembilan orang pekerja lainnya yang hingga kini belum ditemukan.
Otoritas setempat mengidentifikasi adanya indikasi bahaya sebelum ledakan terjadi, di mana kadar gas karbon monoksida di dalam tambang dilaporkan telah melebihi batas aman. Kendati demikian, penyelidikan lebih lanjut masih berjalan untuk memastikan penyebab pasti gas tersebut dapat terpicu hingga meledak.
Sebanyak 345 personel darurat dikerahkan penuh ke lokasi kejadian untuk menangani dampak bencana dan mencari korban hilang. Pemerintah setempat mengonfirmasi bahwa orang yang bertanggung jawab atas perusahaan tambang tersebut saat ini telah ditempatkan di bawah pengawasan hukum guna menjalani pemeriksaan.
Presiden China Xi Jinping langsung mengeluarkan instruksi tegas untuk memaksimalkan seluruh upaya penyelamatan para pekerja yang masih terjebak. Xi juga menuntut adanya investigasi menyeluruh demi mengungkap akar penyebab kecelakaan, sekaligus menegaskan agar pihak-pihak yang bertanggung jawab bila terbukti dijatuhi hukuman sesuai ketentuan hukum yang berlaku.



