Pergerakan proyek jet tempur KF-21 mulai masuk fase yang lebih konkret.
Korea Selatan kini mendorong percepatan ekspor ke Indonesia, dengan target penandatanganan kontrak dilakukan dalam waktu dekat, bertepatan dengan rencana kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Seoul.
Yang sedang dibahas bukan lagi sekadar kerja sama, tapi paket awal pengadaan sekitar 16 unit pesawat. Artinya, proyek yang sebelumnya lebih banyak berada di tahap pengembangan, mulai bergeser ke arah realisasi operasional.
Di sisi lain, posisi Indonesia dalam program ini tetap dipertahankan, meski ada penyesuaian signifikan pada kontribusi dana. Dari komitmen awal 1,6 triliun won, nilainya diturunkan menjadi 600 miliar won hingga 2025.
Konsekuensinya, skema transfer teknologi juga ikut disesuaikan. Sementara itu, Korea Selatan sudah lebih dulu melangkah ke tahap produksi. KAI saat ini mengerjakan 20 unit pertama untuk Angkatan Udara mereka, dengan target pengiriman dimulai tahun ini dan mulai operasional pada paruh kedua tahun depan.
Secara teknis, KF-21 berada di kelas generasi 4.5—diisi teknologi modern seperti radar AESA, sistem avionik digital, hingga kemampuan peperangan elektronik. Namun, pesawat ini belum sepenuhnya masuk kategori stealth seperti F-35, meski sudah mengadopsi sebagian desain pengurang jejak radar.
Dengan dua mesin GE F414, KF-21 mampu melesat hingga Mach 1,8 dan menjangkau lebih dari 2.900 kilometer, menjadikannya salah satu platform tempur yang cukup kompetitif di kelasnya.
Di luar kerja sama dengan Indonesia, Korea Selatan juga aktif membidik pasar ekspor lain. Negara-negara di Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Eropa Timur mulai masuk radar, seiring meningkatnya kebutuhan modernisasi armada tempur.
Di titik ini, KF-21 bukan hanya proyek teknologi, tapi juga jadi ujian apakah Korea Selatan bisa benar-benar masuk ke pasar jet tempur global yang selama ini didominasi pemain lama.
Sumber: IDN Financials





