Rupiah Tak Kunjung Pulih dan Kini Mendekati Level Rp 18.000 per Dolar AS

Rupiah tak kunjung pulih dari tekanan dolar AS Finansial
Ilustrasi: Memegang Uang Rupiah dan Uang Dolar AS. Foto: (AI)
-AA+
comment 2 Created with Sketch Beta. 0 Komentar
  • Rupiah tak kunjung pulih dari tekanan dolar AS hingga merosot ke level Rp 17.859 pada penutupan perdagangan Selasa, 23 Juni 2026.
  • Pelemahan mata uang garuda ini terus berlanjut dan merangkak semakin dekat menuju level psikologis baru sebesar Rp 18.000 per dolar AS.
  • Faktor domestik menjadi pemicu utama kejatuhan kurs setelah MSCI menurunkan penilaian indikator transparansi informasi pasar modal Indonesia.
  • Kondisi berbanding terbalik dengan situasi pasar global yang sebenarnya sedang membaik imbas pelonggaran sanksi perdagangan minyak Iran oleh AS.

Sorotan Finansial, JAKARTA — Tren pelemahan mata uang garuda belum menunjukkan tanda-tanks pembalikan arah. Rupiah tak kunjung pulih dari gempuran dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir transaksi pasar hari ini.

Melansir laporan Investor Daily, nilai tukar rupiah dalam penutupan perdagangan Selasa (23/6/2026) sore terkoreksi 16 poin dan mendarat di level Rp 17.859 per dolar AS. Pergerakan negatif ini membuat posisi rupiah semakin kritis karena terus merosot mendekati level Rp 18.000 per dolar AS. Pada siang harinya, mata uang domestik ini bahkan sempat menyentuh titik terendah dengan melemah 19 poin atau jatuh 0,11 persen ke level Rp 17.862 per dolar AS.

Rapor Merah Transparansi Pasar Modal Indonesia

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memaparkan bahwa kejatuhan nilai tukar rupiah kali ini didominasi oleh faktor internal dari dalam negeri. Pelaku pasar keuangan saat ini sedang cemas menunggu hasil tinjauan berkala dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Sebab utama kepanikan investor dipicu oleh rilis laporan Global Market Accessibility Review milik MSCI. Lembaga pemeringkat internasional tersebut resmi menurunkan penilaian indikator aliran informasi (Information Flow) Indonesia. Rapor tata kelola emiten kita melorot dari yang semula berkategori positif menjadi negatif.

MSCI menyoroti beberapa persoalan mendasar di lantai bursa Indonesia. Di antaranya adalah masalah transparansi struktur kepemilikan saham publik (free float). Selain itu, terdeteksi indikasi aktivitas perdagangan saham yang dinilai berjalan secara terkoordinasi. Investor asing juga mengeluhkan informasi laporan keuangan perusahaan emiten yang sering kali tidak disajikan secara lengkap dalam versi bahasa Inggris.

Sentimen Global Membaik Tidak Mampu Menolong Kurs

Kondisi internal yang memburuk membuat nilai tukar rupiah melemah di saat pasar dunia justru sedang kondusif. Sentimen eksternal sebenarnya bergerak positif setelah tercapai kemajuan nyata dalam kesepakatan damai serta perpanjangan kerangka kerja gencatan senjata antara AS dan Iran.

Pemerintah AS baru saja menerbitkan izin umum komersial selama 60 hari. Kebijakan ini melegalisasi aktivitas penjualan, pengiriman, hingga impor minyak mentah beserta produk turunan minyak bumi asal Iran.

Pengecualian sanksi dagang tersebut juga menyasar pada pelonggaran layanan perbankan, sektor asuransi, dan rantai pasok pengiriman logistik global. Keputusan ini otomatis mendongkrak estimasi lonjakan pasokan minyak mentah dunia dari eksportir Iran dalam beberapa pekan ke depan.

Kebijakan pelonggaran proteksi dagang ini sekaligus berhasil meredakan kekhawatiran pelaku pasar global atas risiko konflik bersenjata dan gangguan pelayaran kapal tanker di Selat Hormuz. Sayangnya, membaiknya iklim geopolitik global tersebut gagal membendung arus keluar modal asing dari pasar domestik akibat sentimen negatif MSCI.

Rekomendasi Untuk Anda

Follow WhatsApp Channel Sorotan Dunia untuk Notifikasi Berita Terbaru Setiap Hari
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *