Mark Zuckerberg Akui Kesalahan Usai Moral Pekerja Meta Ambyar Akibat AI

Mark Zuckerberg Bisnis
CEO Meta Mark Zuckerberg. Foto (Manuel Orbegozo/ Reuters) via the guardian
-AA+
comment 2 Created with Sketch Beta. 0 Komentar
Baca 10 detik
Baca 10 Detik
  • Rapat internal Meta disela oleh makian karyawan yang merasa menjadi budak korporasi akibat beban kerja monoton di unit Applied AI.
  • Kebijakan pemantauan tombol ketik (keystroke) memicu protes keras hingga 1.600 karyawan menandatangani petisi penolakan.
  • CEO Meta Mark Zuckerberg merilis memo internal yang mengakui kesalahan manajemen dan berjanji menghentikan PHK massal tahun ini.

Ledakan Amarah di Rapat Live

Sorotandunia.com – Suasana presentasi daring khusus karyawan Meta berubah kacau. Rekaman audio yang didengar oleh WIRED menunjukkan seorang karyawan menyela jalannya rapat dengan luapan emosi dan kata-kata kasar. Ia melontarkan protes karena merasa dijadikan budak perusahaan. Rekaman tersebut juga menangkap momen saat individu ini meminta pimpinan rapat mengirim pesan kepada eksekutif Meta AI untuk mencaci makinya.

Insiden di hadapan ribuan pekerja ini membuat salah satu pembicara spontan menutupi wajah dengan tangan. Dua pemimpin rapat langsung menginstruksikan seluruh peserta mematikan mikrofon sebelum melanjutkan pemaparan teknis. Kolom komentar siaran langsung seketika ramai oleh respons para staf yang menyebut awal mula rapat berjalan sangat menarik. Pihak Meta sendiri menolak memberikan komentar resmi terkait insiden memalukan ini.

Frustrasi Unit Kerja Bak Kerja Rodi

Gejolak ini bersumber dari ketidakpuasan massal di divisi Applied AI (AAI). Unit baru yang menampung sekitar 6.500 insinyur dan manajer produk ini dibentuk pada Maret lalu guna menyokong Meta Superintelligence Labs. Berdasarkan kesaksian tiga karyawan internal kepada WIRED, mereka dipaksa mengerjakan proyek yang dinilai melelahkan jiwa dan merendahkan keahlian mereka.

Sistem penugasan membuat para insinyur merasa seperti masuk kamp kerja paksa atau gulag. Mereka terisolasi tanpa interaksi sosial dan kehilangan tujuan hidup akibat rutinitas mingguan yang kaku. Tugas mereka hanya membuat teka-teki mudah dan menyusun soal pemrograman harian demi menguji keandalan model kecerdasan buatan. Padahal, barisan pekerja ini awalnya direkrut untuk merancang aplikasi media sosial skala global bagi miliaran pengguna, bukan sekadar menjadi pengumpul data mekanis. Para insinyur yang masuk ke divisi ini juga tidak diberi pilihan selain patuh atau keluar dari perusahaan, hingga muncul istilah “wajib militer” di kalangan staf.

Kebijakan Brutal Mengintai Karyawan

Stres kerja tidak hanya melanda divisi AI. Gelombang pemutusan hubungan kerja terhadap 10 persen staf atau sekitar 8.000 karyawan pada bulan lalu berdampak buruk pada moral pekerja di bagian Instagram dan rekayasa pusat data. Kondisi ini diperparah oleh kebijakan baru manajemen yang memantau setiap klik dan ketikan tombol (keystroke) komputer karyawan di Amerika Serikat untuk bahan pelatihan AI. Kebijakan spionase internal ini memicu perlawanan terbuka. Lebih dari 1.600 karyawan telah menandatangani petisi penolakan, yang memaksa Meta melonggarkan aturan dengan memberi jeda jeda pemantauan selama 30 menit.

Kepala Bagian Produk Meta, Chris Cox, dalam rapat internal Instagram tidak menampik situasi pelik ini. Ia mengibaratkan kondisi kerja belakangan ini seperti berlari maraton di tengah badai hujan es dengan formasi tim yang terus dibongkar pasang secara paksa saat performa sedang direkam. Cox mengingatkan jajaran manajemen agar tidak bertindak terlalu ekstrem terhadap teknologi. Ia menegaskan AI bukanlah tuhan maupun setan, kemampuannya tidak seistimewa yang dikira, dan sistemnya terus berubah setiap minggu.

Memo Pengakuan Dosa Zuckerberg

Menanggapi situasi yang terus memanas, CEO Meta Mark Zuckerberg mengirimkan memo internal untuk meredam kepanikan massal. Ia mengakui langkah restrukturisasi organisasi yang berjalan agresif telah memicu masa-masa sulit dan kepedihan di berbagai lini korporasi. Zuckerberg berterus terang bahwa manajemen telah melakukan kesalahan fatal dan berpeluang mengulangi kesalahan lain dalam proses transisi ini.

Melalui memo tersebut, Zuckerberg menjamin tidak akan ada lagi gelombang PHK massal lanjutan hingga akhir tahun. Guna mengembalikan stabilitas perusahaan, Meta meluncurkan rencana pembatasan jumlah bawahan per manajer, mengingat rasio di tim Applied AI sempat membengkak parah hingga 50 banding satu. Langkah pemulihan lain yang dijanjikan meliputi penambahan anggaran acara internal, penyelenggaraan kompetisi hackathon untuk mempererat solidaritas, serta pengembalian fasilitas meja kerja tetap bagi karyawan di berbagai kantor operasional.

Baca Artikel Lainnya

Follow WhatsApp Channel Sorotan Dunia untuk Notifikasi Berita Terbaru Setiap Hari
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *