Lampu Kuning Ekspansi AI Korea Selatan: Krisis Pasokan Listrik Mengancam Operasional Superkomputer

AI Korea Selatan Inovasi
Pusat data, Gak Sejong, di kota Sejong. Pakar ingatkan jaringan listrik batasi ekspansi AI Korea Selatan. Pemerintah dorong desentralisasi data center keluar dari Seoul. (Foto: Naver)
-AA+
comment 2 Created with Sketch Beta. 0 Komentar
Baca 10 detik
Baca 10 Detik
  • Fokus hambatan ekspansi kecerdasan buatan (AI) Korea Selatan kini bergeser drastis dari kelangkaan GPU Nvidia ke masalah keterbatasan pasokan daya dan kapasitas jaringan listrik.
  • Konsumsi listrik pusat data AI melonjak hingga puluhan kali lipat dibanding fasilitas tradisional, memicu risiko kelebihan beban sistem transmisi di wilayah metropolitan Seoul.
  • Skala investasi infrastruktur AI Korea Selatan jauh tertinggal dari proyek masif bernilai ratusan miliar dolar yang digelontorkan oleh Amerika Serikat dan China.
  • Para pakar merekomendasikan Korea Selatan untuk mundur dari perlombaan pusat data skala besar (hyperscale) dan beralih mengoptimalkan pasar khusus seperti teknologi pemrosesan dalam memori serta server edge.

Hambatan dari Chip ke Daya Listrik

Sorotandunia.com – Ambisi Korea Selatan untuk mempertahankan daya saing global di sektor kecerdasan buatan menghadapi tembok besar yang tidak lagi berkaitan dengan pasokan semikonduktor, melainkan ketersediaan energi. Melansir laporan Koreaherald, para ahli memperingatkan bahwa kapasitas jaringan listrik kini menjadi kendala paling krusial yang dapat menghentikan ekspansi AI di Negeri Gingseng tersebut. Ketika persaingan global beralih pada adu masifnya infrastruktur, tantangan utama bukan lagi sekadar mengamankan unit pemroses grafis (GPU) lansiran Nvidia, melainkan bagaimana menjamin pasokan daya, kapasitas transmisi, dan ketersediaan lokasi yang tepat untuk menghidupkan pusat data pembakar energi tersebut.

Tahun lalu, Nvidia sebenarnya telah berkomitmen memasok lebih dari 260.000 GPU kepada pemerintah Korea Selatan dan jajaran korporasi raksasa seperti Samsung Electronics, SK Group, Hyundai Motor Group, serta Naver Cloud. Kendati pasokan chip premium aman, masalah baru muncul saat perangkat-perangkat tersebut mulai dioperasikan. Fasilitas pusat data AI memerlukan pasokan listrik yang jauh melampaui kapasitas fasilitas konvensional. Data industri menunjukkan satu server yang menampung delapan GPU Nvidia B200 memerlukan daya sekitar 20 kilowatt, sudah termasuk sistem pendinginan. Dalam satu rak yang berisi empat server sejenis, konsumsi energi melesat hingga 80 kilowatt. Angka ini berbanding terbalik dengan pusat data tradisional yang hanya membutuhkan 3 hingga 5 kilowatt per rak. Lonjakan kebutuhan energi yang masif ini menempatkan infrastruktur kelistrikan sebagai inti dari hidup mati strategi AI nasional.

Ancaman Kelebihan Beban Sistem Transmisi Seoul

Konsentrasi pembangunan infrastruktur digital yang tidak merata memperparah kerentanan sektor energi ini. Profesor teknik elektro dan elektronika di Universitas Konkuk, Park Jong-bae, mengingatkan dampak buruk jika pusat data AI terus menumpuk di wilayah metropolitan Seoul. Saat ini, lebih dari 70 persen pusat data Korea Selatan beroperasi di wilayah ibu kota. Park Jong-bae menegaskan, penumpukan di area yang tingkat permintaan listriknya sudah sangat tinggi akan memicu kelebihan beban jaringan, kemacetan transmisi, serta mengganggu stabilitas pasokan listrik nasional. Sebagai solusinya, pusat data AI baru harus digeser ke luar wilayah Seoul, dibarengi dengan pelonggaran regulasi yang mengatur pembelian daya secara langsung.

Pemerintah Korea Selatan merespons ancaman ini dengan menerbitkan Undang-Undang Energi Terdistribusi serta menerapkan skema penilaian dampak jaringan listrik. Langkah regulasi ini diambil demi merangsang pembangunan pusat data AI di luar ibu kota. Meski demikian, para pelaku industri menilai intervensi perizinan dari pemerintah tidak akan membuahkan hasil optimal jika isu-isu fundamental di lapangan belum diselesaikan secara integratif. Pasokan listrik yang stabil, penyediaan kapasitas pendinginan, pengadaan lahan yang memadai, hingga mitigasi dampak lingkungan harus diselesaikan secara serentak di wilayah-wilayah baru tersebut.


Ketertinggalan Skala Investasi dari AS dan China

Di panggung global, Korea Selatan menghadapi kepungan investasi raksasa dari dua kekuatan ekonomi terbesar dunia yang bergerak dengan strategi berbeda. Di Amerika Serikat, sektor swasta memimpin pergerakan lewat Proyek Stargate yang didukung oleh OpenAI, SoftBank, Oracle, dan MGX. Diluncurkan pada Januari 2025, proyek ini berkomitmen mengucurkan dana fantastis sebesar 500 miliar dolar AS dalam kurun waktu empat tahun untuk membangun infrastruktur AI, sementara pemerintah AS menyokong penuh dari sisi perizinan, penyediaan lahan, dan pemenuhan energi. Sebaliknya, China menerapkan pendekatan yang dikomandoi langsung oleh negara. Pemerintah Beijing berencana membelanjakan sekitar 2 triliun yuan atau setara 295 miliar dolar AS selama lima tahun untuk membangun jaringan pusat data AI nasional. Proyek raksasa ini dioperasikan oleh badan usaha milik negara seperti China Mobile dan China Telecom, dengan dukungan teknologi inti dari pemasok domestik sekelas Huawei.

Skala finansial yang dikerahkan Korea Selatan berada jauh di bawah nilai investasi kedua negara adidaya tersebut. Kementerian Sains dan Teknologi Informasi Korea Selatan menargetkan stimulus untuk memicu investasi AI swasta sebesar 65 triliun won atau sekitar 42,8 billion dolar AS dalam rentang waktu tahun 2024 hingga 2027. Di samping itu, pemerintah mengalokasikan peningkatan anggaran AI negara menjadi 10 triliun won pada tahun 2026, serta menggalang dana hingga 30 triliun won melalui skema investasi publik-swasta. Ketimpangan angka ini memicu dilema strategis bagi internal Korea Selatan: tetap memaksakan diri ikut bertarung membangun klaster pusat data raksasa berbasis GPU, atau mencari haluan baru yang lebih adaptif.

Strategi Pasar Khusus dan Server Edge

Ketergantungan struktural pada ekosistem global membatasi ruang gerak Korea Selatan untuk bersaing langsung dalam skala makro. Walaupun Samsung Electronics dan SK hynix memegang posisi kunci sebagai pemimpin pasar chip memori dunia, Korea Selatan nyatanya masih sangat bergantung pada Nvidia untuk pasokan GPU dan fondasi ekosistem akselerator AI yang lebih luas. Profesor di Sekolah Teknik Elektro KAIST, Yoo Hoi-jun, menyatakan bahwa mengejar AS dan China dalam pertempuran pusat data hyperscale adalah langkah keliru karena kedua negara tersebut telah mengamankan keunggulan telak yang sulit dikejar.

Korea Selatan dinilai perlu memetakan ulang arah kebijakan dengan fokus pada ceruk pasar khusus yang mampu menghasilkan nilai ekonomi riil. Yoo Hoi-jun menyarankan agar negara memanfaatkan keunggulan domestik yang sudah mapan di sektor memori, teknologi processing-in-memory (PIM), serta pengembangan akselerator AI buatan dalam negeri. Mengingat kerangka kerja pusat data skala besar dunia saat ini sudah sangat kaku dan sulit mengadopsi teknologi baru secara cepat, ruang kompetisi yang paling realistis bagi Korea Selatan berada pada pengembangan sistem on-premises, pusat data skala kecil, dan server edge. Langkah taktis ini diyakini mampu menyelaraskan keterbatasan infrastruktur energi dengan kekuatan industri utama Korea Selatan di bidang semikonduktor, manufaktur, mobilitas, hingga layanan awan (cloud).

 

Baca Artikel Lainnya

Follow WhatsApp Channel Sorotan Dunia untuk Notifikasi Berita Terbaru Setiap Hari
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *