Di Balik Siluet F-35: Anatomi J-35A dan Filosofi Twin-Engine
Jet tempur siluman generasi kelima dari China, Shenyang J-35A, kerap kali mendapat julukan “kembaran F-35” berkat kemiripan visual yang mencolok. Berdasarkan observasi visual selama debut publik di Zhuhai Air Show...
Dirgantara Jet tempur siluman generasi kelima dari China, Shenyang J-35A, kerap kali mendapat julukan “kembaran F-35” berkat kemiripan visual yang mencolok. Berdasarkan observasi visual selama debut publik di Zhuhai Air Show pada November 2024, J-35A menampilkan konfigurasi siluet yang mirip dengan F-35, meski detail teknisnya berbeda signifikan. Namun di balik siluet yang hampir identik, tersembunyi perbedaan filosofi desain yang fundamental, terutama dalam pilihan konfigurasi mesin yang mengungkapkan prioritas strategis berbeda antara Beijing dan Washington.
Arsitektur Twin-Engine: Cadangan Daya vs Efisiensi
Pembeda paling signifikan J-35A dari F-35 terletak di bagian belakang fuselage: dua mesin turbofan yang disematkan berdampingan. Menurut analisis Aviation Week Network berdasarkan pengamatan dekat selama Zhuhai Air Show 2024, J-35A tampak menggunakan konfigurasi twin-engine, meski tipe mesin exact masih menjadi subjek spekulasi antara WS-19 domestic atau pengembangan dari RD-93. Konfigurasi ini bukan kebetulan, melainkan respons terhadap pengalaman pahit China dalam mengoperasikan jet tempur berbasis kapal induk.
F-35 Lightning II, dengan mesin tunggal Pratt & Whitney F135 yang sangat powerful, dirancang untuk efisiensi maksimal, lebih ringan, konsumsi bahan bakar lebih rendah, dan biaya perawatan lebih murah. Data spesifikasi F-35 diambil dari rilis resmi Lockheed Martin dan laporan Government Accountability Office (GAO) AS tahun 2024. Namun China memilih jalur berbeda. Dua mesin memberikan redundansi kritis: jika satu mesin gagal akibat kerusakan tempur atau kecelakaan, pilot masih memiliki daya dorong cadangan untuk kembali ke pangkalan atau kapal induk. Analisis ini didasarkan pada studi RUSI (Royal United Services Institute) mengenai doktrin operasional carrier-based fighter, bukan pernyataan resmi PLA Navy.
Bagi Angkatan Laut China (PLAN) yang mengoperasikan kapal induk Fujian, kemampuan ini menjadi vital. Keberadaan J-35 sebagai varian marinir dikonfirmasi oleh South China Morning Post pada Januari 2025, berdasarkan analisis satelit dan konfirmasi industri. Dek penerbangan terbatas menuntut safety margin lebih tinggi saat lepas landas dan mendarat, momen paling berisiko dalam operasi carrier-based. J-35A, dengan varian marinirnya J-35, dirancang untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem, bukan sekadar mengejar efisiensi operasional.
Spesifikasi dan Kemampuan
| Parameter | J-35A | F-35A |
|---|---|---|
| Panjang | 17,3 m (estimasi berdasarkan analisis foto Zhuhai) | 15,7 m |
| Lebar sayap | 11,5 m (estimasi berdasarkan analisis foto Zhuhai) | 10,7 m |
| Berat kosong | ~17.000 kg (estimasi industri, belum dikonfirmasi AVIC) | ~13.300 kg |
| Mesin | 2 × WS-19 (klaim media China, spesifikasi exact tidak terverifikasi) | 1 × F135-PW-100 |
| Dorongan total | ~200 kN (estimasi berdasarkan dimensi mesin) | ~191 kN |
| Kecepatan maks | Mach 1,8 (klaim AVIC, belum ada bukti independen) | Mach 1,6 |
| Radius tempur | ~1.200 km (estimasi analis, tidak ada data resmi) | ~1.240 km |
| Beban senjata internal | 6.000 kg (klaim media China, perlu verifikasi) | 8.160 kg |
Keunggulan J-35A
-
Survivability lebih tinggi – twin engine berarti kesempatan selamat lebih besar jika terkena serangan (berdasarkan prinsip redundansi aerospace umum, bukan data operasional J-35A)
-
Kecepatan maksimal superior — Mach 1.8 vs Mach 1.6 (klaim AVIC, belum diverifikasi independen)
-
Biaya operasional lebih rendah — estimasi $80-100 juta per unit (estimasi analis pertahanan berdasarkan harga jet generasi 4.5 China, tidak ada konfirmasi resmi)
-
Ketersediaan ekspor — Pakistan, UAE, dan Saudi Arabia menunjukkan minat (dilaporkan The Diplomat dan Defense News pada Q4 2024-Q1 2025)












