Dual-role fighter – istilah ini sering dipakai di literatur militer, tapi jarang dijelaskan dengan tepat apa bedanya dengan multirole fighter pada umumnya. Bedanya, F-15E Strike Eagle benar-benar dibangun dari awal untuk dua misi berbeda: air-to-air dan air-to-ground, bukan ditambal-tambal kemampuan seiring waktu. Makanya konfigurasi dua kursi di cockpit adalah standar, bukan opsi. Pilot di depan fokus terbang dan dogfight, sementara Weapon Systems Officer (WSO) di belakang mengelola radar, targeting pod, dan weapon delivery secara simultan. Split workload ini yang bikin F-15E bisa “fight its way in, fight its way out”  masuk ke wilayah musuh, hancurkan target, dan keluar sambil tetap siap dogfight kalau ada ancaman udara.

Yang menarik, meski usia operasional rata-rata sudah di atas 30 tahun, F-15E justru mengalami upgrade paling signifikan dalam sejarahnya pada 2025. Sistem EPAWSS (Eagle Passive/Active Warning Survivability System) yang baru saja di-fielding di RAF Lakenheath bukan sekadar pengganti radar warning receiver lama. Ini adalah cognitive electronic warfare atau sistem yang bisa belajar dan adaptasi terhadap ancaman yang belum pernah ditemui sebelumnya. Artinya, F-15E dengan airframe tahun 1980an kini punya otak elektronik yang lebih mirip generasi kelima. USAF sendiri terjebak dalam situasi ironis: mereka ingin memensiunkan sebagian fleet untuk mengalokasikan anggaran ke F-15EX dan NGAD, tapi kongres memblokir karena platform ini terlalu capable untuk dilepas begitu saja.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *